TVRINews – Jakarta
KSSK Pastikan Ketahanan Ekonomi Domestik Terjaga di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengonfirmasi bahwa ketahanan ekonomi nasional tetap berada pada jalur yang stabil selama kuartal pertama tahun 2026.
Meskipun volatilitas pasar global mengalami eskalasi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sinergi kebijakan fiskal dan moneter di dalam negeri dinilai mampu meredam dampak eksternal tersebut.
Keputusan ini merupakan hasil dari rapat koordinasi intensif yang melibatkan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Para otoritas tertinggi sektor keuangan tersebut menyimpulkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan resiliensi yang signifikan.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam konferensi pers yang digelar Kamis 7 Mei 2026, menyatakan bahwa kondisi Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) secara umum berada dalam zona aman.
Penilaian tersebut didasarkan pada performa indikator makro yang tetap positif meski cakrawala ekonomi dunia sedang diliputi ketidakpastian.
( Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: Youtube Kementerian Keuangan RI )
"Hasil asesmen KSSK menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama kuartal I-2026 tetap dalam kondisi terjaga, di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global seiring eskalasi konflik di Timur Tengah," ujar Purbaya pada Live striming Youtube Kementerian Keuangan RI.
Mitigasi Dampak Geopolitik
Purbaya menyoroti bahwa memasuki April 2026, dinamika konflik di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi lonjakan harga energi yang dapat menekan inflasi.
Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah bersama anggota KSSK lainnya terus melakukan pemantauan secara forward-looking untuk mengantisipasi risiko-risiko di masa depan.
Berdasarkan hasil rapat berkala yang dilaksanakan pada 27 April lalu, ekonomi domestik justru mencatatkan performa yang melampaui ekspektasi.
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama tahun ini tercatat berada di level 5,61 persen, sebuah angka yang memberikan bantalan cukup kuat bagi pasar domestik.
"Global masih penuh ketidakpastian, kita akan waspadai itu terus. Untuk ekonomi domestik, kita lihat triwulan pertama pertumbuhan cukup bagus," tambah Purbaya, merujuk pada ketahanan daya beli dan investasi yang tetap terjaga.
Proyeksi Kuartal II dan Stimulus Lanjutan
Menatap periode selanjutnya, pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai potensi hambatan ekonomi makro yang mungkin muncul pada kuartal kedua tahun 2026.

(Grafis: TVRINews.com/FY)
Fokus KSSK saat ini adalah memastikan langkah-langkah mitigasi terkoordinasi berjalan secara presisi untuk meminimalkan transmisi guncangan global ke sektor riil.
Sebagai langkah proaktif, pemerintah mengindikasikan bakal meluncurkan stimulus tambahan jika diperlukan.
Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga momentum ekspansi ekonomi nasional agar tetap konsisten di tengah tantangan rantai pasok global dan fluktuasi nilai tukar yang masih dinamis.










