TVRINews – Jakarta
Bank Indonesia operasikan langkah strategis di pusat keuangan dunia guna amankan kurs
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah melalui serangkaian intervensi pasar yang agresif dan kebijakan moneter strategis. guna meredam dampak volatilitas geopolitik dan ketidakpastian geoekonomi global yang kian dinamis.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa bank sentral telah mengaktifkan tujuh protokol strategis sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menekankan bahwa langkah-langkah yang diambil saat ini melampaui kebijakan konvensional guna memastikan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.

(Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Foto: Youtube Kementerian Keuangan)
"Ini bukan business as usual. Tujuh langkah itu adalah langkah-langkah yang all out!" tegas Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2026 di kutip Jumat 8 Mei 2026.
Intervensi Global dan Cadangan Devisa
Salah satu pilar utama dalam strategi BI adalah intervensi besar-besaran di pasar valuta asing.
Operasi ini mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Perry mengungkapkan bahwa intervensi dilakukan secara simultan di berbagai pusat keuangan utama dunia, termasuk Hong Kong, Singapura, London, hingga New York.
Dampak dari aksi pasar yang intensif ini terlihat pada posisi cadangan devisa Indonesia yang terkoreksi menjadi 148,2 miliar dolar AS per Maret 2026.
Meski demikian, otoritas moneter meyakini angka tersebut masih sangat kuat untuk menopang stabilitas.
"Cadangan devisa itu kita kumpulkan pada saat panen inflow besar, makanya kita gunakan pada saat paceklik, pada saat outflow jumlahnya besar," jelas Perry.
Strategi SRBI dan Arus Modal
Selain intervensi langsung, Bank Indonesia mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik modal asing.
Langkah ini bertujuan untuk mengompensasi keluarnya dana (outflow) dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
Data terbaru menunjukkan:
• SRBI: Mencatat aliran dana masuk (inflow) sebesar Rp78,1 triliun secara year-to-date (ytd).
• Pasar Saham: Mengalami outflow sebesar Rp38,6 triliun
• SBN: Mencatat outflow sebesar Rp11,7 triliun, meski mulai menunjukkan tren pembalikan arah positif belakangan ini.
Tekanan Musiman
Meskipun nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.400 per dolar AS, BI menilai posisi rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalue). Optimisme ini didasarkan pada data ekonomi domestik yang solid, antara lain:
• Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen.
• Inflasi terkendali di level 2,42 persen.
• Surplus neraca perdagangan yang bertahan selama 71 bulan berturut-turut.
Perry menjelaskan bahwa pelemahan saat ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan siklus musiman.
Di pasar global, tekanan datang dari kenaikan harga minyak, tensi geopolitik di Timur Tengah, serta suku bunga AS yang bertahan di level 4,41 persen. Sementara dari sisi domestik, permintaan valuta asing melonjak pada periode April-Mei akibat kebutuhan musim haji, repatriasi dividen korporasi, serta pembayaran kewajiban utang luar negeri.
Dengan fundamental yang kokoh, Bank Indonesia memproyeksikan rupiah memiliki ruang yang cukup luas untuk kembali bergerak stabil dan menguat dalam jangka menengah.










