TVRINews, Caracas
Caracas Berupaya Cairkan Aset Emas di London Demi Pendanaan Rekonstruksi Darurat.
Jumlah korban jiwa akibat bencana gempa bumi kembar yang mengguncang Venezuela terus merangkak naik. Hingga Sabtu 11 Juli 2026, otoritas setempat mengonfirmasi angka kematian telah mencapai 4.333 orang, sementara upaya pencarian terhadap ribuan warga yang hilang masih terus dilakukan di tengah kondisi infrastruktur yang porak-poranda.
Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, mengungkapkan bahwa jumlah tersebut meningkat signifikan dari data hari sebelumnya yang mencatat 4.118 korban. Tragedi ini kini tercatat sebagai salah satu bencana seismik paling mematikan dalam sejarah modern Amerika Latin. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan hingga 50.000 orang masih belum ditemukan.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi hanya berselang 39 detik pada 24 Juni lalu telah meluluhlantakkan Caracas serta wilayah pesisir La Guaira.
Fenomena seismik langka yang dikenal sebagai doublet earthquake ini menyebabkan lebih dari 180 bangunan runtuh total, menciptakan kehancuran yang melampaui dampak gempa tunggal biasa.
Krisis Hunian dan Langkah Pemerintah
Saat ini, lebih dari 19.000 penyintas terpaksa bertahan hidup di kamp-kamp darurat yang didirikan di stadion, lapangan terbuka, dan trotoar. Pemerintah Venezuela memperkirakan setidaknya 25.000 unit hunian baru diperlukan untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal.

(Kamp penampungan dihuni lebih dari 19.000 pengungsi didirikan di stadion, lapangan bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal. (Foto: EPA))
Menanggapi kekhawatiran keluarga korban terkait proses evakuasi yang terhambat, Jorge Rodriguez menegaskan bahwa operasi pencarian jenazah akan tetap menjadi prioritas utama.
"Pemerintah akan segera menyediakan apartemen yang sedang dalam tahap konstruksi untuk menampung keluarga-keluarga yang kehilangan rumah dalam beberapa hari mendatang," ujarnya.
Pemerintah juga telah menetapkan alokasi lahan seluas 584.000 meter persegi di La Guaira, yang dinilai lebih aman dari zona pesisir, untuk rencana pembangunan pemukiman jangka panjang.

(Ratusan keluarga memilih bertahan di jalanan Caracas karena ketakutan untuk kembali ke rumah mereka. (Foto: Javier Campos/AP))
Upaya Diplomatik Terkait Cadangan Emas
Di tengah krisis yang mendalam, Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, telah melayangkan surat resmi kepada Raja Charles III di Inggris. Pemerintah Caracas meminta akses terhadap 31 ton cadangan emas senilai 1,95 miliar dolar AS yang saat ini dibekukan di Bank of England.
"Emas ini adalah milik rakyat kami. Kami membutuhkan aset ini untuk menanggulangi konsekuensi dari bencana gempa bumi," tegas Delcy dalam pernyataannya di televisi nasional.
Hingga laporan ini diturunkan, pihak Istana Buckingham belum memberikan tanggapan resmi. Kendala diplomatik tetap membayangi, mengingat status legal pemerintahan saat ini masih belum mendapat pengakuan formal dari Inggris, menyusul putusan Mahkamah Agung Inggris tahun 2021 yang membatasi akses pemerintah Caracas terhadap cadangan emas tersebut.
Tantangan Rekonstruksi yang Masif
PBB memperkirakan total kerusakan fisik meliputi rumah, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur kritis mencapai 37 miliar dolar AS. Jumlah tersebut merupakan beban ekonomi yang sangat besar bagi Venezuela yang memang sudah bergulat dengan instabilitas politik dan ekonomi sebelum bencana terjadi.
Sejauh ini, komunitas internasional telah mengucurkan bantuan lebih dari 600 juta dolar AS. Amerika Serikat menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan komitmen lebih dari 386 juta dolar AS, yang disalurkan melalui lembaga-lembaga internasional seperti Palang Merah, UNICEF, dan World Food Programme guna memastikan transparansi distribusi.
Sementara itu, PBB telah meluncurkan seruan darurat untuk penggalangan dana sebesar 296 juta dolar AS, yang difokuskan untuk memenuhi kebutuhan mendesak bagi 1,3 juta jiwa yang terdampak selama enam bulan ke depan.










