TVRINews, Dubai
Ketegangan di Teluk Meningkat, Iran Balas Serang Negara Arab.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia semakin memanas setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah target di Iran pada Minggu 12 juli 2026 pagi waktu setempat.
Operasi militer ini merupakan respons Washington atas aksi Iran yang menyerang sebuah kapal kargo di Selat Hormuz hingga menyebabkan kapal tersebut terbakar dan kru terpaksa dievakuasi.
Komando Pusat militer AS (CENTCOM) menyatakan telah menghantam sekitar 140 target, termasuk situs peluncuran rudal dan drone, depot amunisi, serta infrastruktur komunikasi. Langkah ini diklaim bertujuan untuk mendegradasi kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi maritim internasional.
"Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka harus membayarnya," tulis Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, melalui akun media sosialnya.
Serangan AS ini memicu aksi balasan dari Teheran yang menargetkan Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Otoritas keamanan di negara-negara tersebut melaporkan upaya intersepsi terhadap serangan rudal dan pesawat nirawak.
Menanggapi eskalasi tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan pihak luar.
"Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami telah memberi peringatan: tepati janji Anda atau tanggung risikonya," ujar Qalibaf melalui platform X.
Ancaman bagi Stabilitas Energi
Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, kini menjadi titik krusial dalam kebuntuan diplomatik antara Teheran dan Washington.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, kontrol Iran atas jalur vital ini telah menciptakan krisis energi global, meskipun harga minyak sempat mengalami fluktuasi tajam.
Dalam insiden terbaru di selat tersebut, kapal kontainer berbendera Siprus dilaporkan mengalami kerusakan mesin yang parah setelah terkena serangan Iran. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengonfirmasi bahwa awak kapal telah meninggalkan kapal saat api mulai berkobar.

(Kapal tanker berbendera Gambia, Bili, terlihat berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran bagian selatan. (Foto : kantor berita ISNA milik Iran via AFP))
Pihak Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa kapal tersebut mengabaikan instruksi untuk mengubah arah. Sebagai respons, Iran menegaskan bahwa selat tersebut akan tetap ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut dan mengancam akan menyasar pangkalan lawan di kawasan tersebut jika serangan terus berlanjut.
Ketidakpastian Kepemimpinan di Teheran
Di tengah memanasnya situasi, muncul spekulasi mengenai otoritas pengambilan keputusan di Iran. Pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonimitas, menyebut adanya indikasi faksi garis keras yang berupaya menyabotase upaya gencatan senjata, terlepas dari klaim Teheran yang menyebut pemerintahan mereka tetap solid di bawah kepemimpinan baru.
Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan pertamanya sejak kematian ayahnya, menegaskan komitmen Iran untuk melakukan aksi balasan. "Pembalasan adalah kehendak bangsa kami dan harus dilaksanakan," tegasnya melalui siaran televisi pemerintah.
Berdasarkan pantauan AP News, Situasi di kawasan kini berada dalam ketidakpastian tinggi, terutama setelah serangkaian serangan baru-baru ini menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai 115 lainnya di Iran, menurut data Kementerian Kesehatan setempat.










