TVRINews – Taipe
Badai selebar 1.000 kilometer memicu kewaspadaan tinggi di Taiwan, Tiongkok, dan Jepang setelah menelan korban jiwa di Filipina.
Asia Timur kini berada dalam status siaga tinggi menyusul pergerakan Topan Bavi, badai masif yang tercatat sebagai salah satu fenomena cuaca terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Dengan bentangan mencapai 1.000 kilometer, sistem badai ini membawa ancaman hujan ekstrem, angin kencang, dan risiko banjir di sepanjang jalur lintasannya di Pasifik Barat.
Sebelum bergerak ke arah barat laut, Bavi telah menghantam bagian selatan. Laporan media setempat minggu 12 juli 2026 mengonfirmasi bahwa curah hujan intensitas tinggi memicu serangkaian tanah longsor di Pulau Mindanao, yang menelan setidaknya 15 korban jiwa. Hingga saat ini, tim penyelamat dilaporkan masih berupaya mencari sejumlah warga yang dinyatakan hilang.

(Warga berjalan menerjang genangan banjir setelah hujan deras di Chittagong, Tiongkok, Sabtu 11 Juli 2026. (Foto: AFP))
Skala Badai yang Belum Pernah Terjadi
Para ahli meteorologi menyoroti ukuran luar biasa dari badai ini. Otoritas cuaca Taiwan menyatakan bahwa Bavi merupakan badai terbesar yang mengancam wilayah mereka sejak tahun 1987. Luasnya radius badai berarti dampak kerusakan dapat dirasakan jauh dari pusat pusaran angin.
"Ini adalah salah satu badai terbesar dalam beberapa dekade terakhir yang mengancam kawasan Asia Timur," catat laporan pemantauan cuaca regional.
Menghadapi ancaman ini, otoritas di Taiwan, Tiongkok, dan Jepang telah mengeluarkan peringatan dini. Di Taiwan, pemerintah telah menyiagakan 29.000 personel militer untuk respons bencana, sementara ratusan penerbangan di kawasan tersebut resmi dibatalkan demi keamanan operasional.

(Warga berjalan menerjang banjir di Kyauktaw, Myanmar, 10 Juli 2026. (Foto: AFP))
Jalur Lintas dan Kewaspadaan Regional
Bavi diperkirakan melintasi bagian utara Taiwan pada rentang waktu Jumat 10 juli malam hingga Sabtu 11 juli 2026. Setelah itu, badai diprediksi akan mendarat di pesisir tenggara Tiongkok, dengan Provinsi Fujian dan Zhejiang menjadi wilayah yang paling terdampak. Selain itu, Kepulauan Sakishima di Jepang juga diperkirakan akan menerima dampak angin kencang dan hujan lebat.
Kekhawatiran bertambah mengingat kawasan tersebut baru saja dilanda Topan Maysak beberapa hari lalu. "Tanah yang sudah jenuh air akibat badai sebelumnya meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor yang lebih parah saat Bavi mendekat," ungkap sejumlah ahli prakiraan cuaca.
Pihak berwenang di Tiongkok memperingatkan bahwa sisa energi dari Bavi berpotensi bergerak lebih jauh ke wilayah timur dan utara, menjangkau provinsi-provinsi yang tidak terbiasa dengan intensitas topan. Penduduk di wilayah berisiko kini tengah berupaya mengamankan pasokan pangan dan kebutuhan esensial sebagai langkah antisipasi terhadap potensi isolasi akibat cuaca ekstrem.










