TVRINews- Washington
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan kemungkinan adanya aksi militer lanjutan terhadap Iran, mengklaim bahwa Washington telah melancarkan serangan signifikan terhadap negara tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada awak media di Gedung Putih sebelum bertolak ke acara kampanye di Iowa pada Kamis 22 Oktober 2026 waktu setempat.
"Langkah ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama oleh presiden-presiden sebelumnya terkait isu Iran. Kami telah memberikan pukulan telak, dan kami mungkin akan melangkah sedikit lebih jauh," ujar Trump.
Menanggapi dinamika opini publik mengenai konflik ini, Trump memberikan pandangan yang bercabang. Ia menilai sebagian masyarakat mendukung langkah tegas yang diambilnya, sementara sebagian lainnya bersikap sebaliknya mengingat adanya dampak serta konsekuensi yang harus ditanggung. Meski demikian, ia menegaskan keputusannya didasari oleh sikap tegas Washington dalam mencegah kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.
Sebelumnya pada Rabu 21 Oktober 2026, Trump juga menegaskan bahwa AS tidak sedang berada dalam jalur negosiasi dengan Tehran, seraya menambahkan bahwa perkembangan baru akan terjadi dalam waktu dekat.
Rencana Taktis dan Escalasi di Selat Hormuz
Sejumlah media internasional, seperti The New York Times dan Financial Times, melaporkan bahwa militer AS bersama Israel telah menyusun skenario serangan balasan baru pascalandasan diplomasi dalam Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad yang disepakati Juni lalu mengalami kegagalan.
Konflik terbuka yang dimulai sejak 28 Februari tersebut telah memicu aksi balasan dari pihak Iran berupa serangan rudal dan pesawat nirawak (drone), yang berdampak pada gangguan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz—salah satu perlintasan energi terpenting di dunia.
Di sisi lain, Trump menuding pihak Tehran sengaja memanipulasi situasi serta menghembuskan laporan palsu terkait insiden kapal guna memicu lonjakan harga minyak global di tengah proses pemilu sela AS.
Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa mereka telah menargetkan empat kapal di kawasan Selat Hormuz pada hari Kamis, sementara tiga kapal lainnya dilaporkan menghantam ranjau laut di rute pesisir Oman
Blokade Maritim Memasuki Hari ke-100
Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa kebijakan blokade maritim terhadap akses pelabuhan Iran kini telah mencapai 100 hari sejak diberlakukan kembali pada 14 Juli.
Berdasarkan estimasi resmi CENTCOM, pembatasan lalu lintas laut ini telah menahan potensi ekspor minyak mentah Iran senilai 25 miliar dolar AS.
"Tidak ada aktivitas ekspor maupun impor ke Iran melalui jalur laut, kecuali pasokan bantuan kemanusiaan yang diizinkan oleh pasukan AS," bunyi pernyataan resmi CENTCOM.
Meskipun militer AS terus mengawal lalu lintas tanker di Teluk Persia, ketegangan geopolitik yang berlanjut di kawasan tersebut tetap menjaga harga energi dunia berada pada level yang relatif tinggi.










