TVRINews – Dammam
Serangan Pesawat Nirawak Mengguncang Fasilitas Penerbangan Utama di Dammam Saat Tensi Regional Meningkat
Satu orang dilaporkan tewas dan delapan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang menargetkan Bandara Internasional King Fahd di Dammam, Arab Saudi Rabu 21 Oktober 2026 malam waktu setempat. Otoritas penerbangan sipil setempat mengonfirmasi bahwa insiden tersebut langsung memicu penanganan darurat di area stasiun udara wilayah timur Kerajaan tersebut.
Menurut pernyataan resmi General Authority of Civil Aviation (GACA), seluruh korban luka telah dievakuasi ke fasilitas medis terdekat. Tingkat cedera para korban bervariasi, mulai dari luka ringan hingga kondisi kritis. GACA menegaskan bahwa pemantauan ketat serta tindakan pengamanan tambahan sedang diberlakukan di seluruh area bandara.
Insiden di Dammam ini terjadi selang beberapa jam setelah pertahanan udara Arab Saudi mengintersepsi pesawat nirawak (drone) yang mengincar fasilitas minyak Saudi Aramco di Shaybah.
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa dua orang tewas dalam peristiwa pencegatan drone tersebut, menandakan eskalasi keamanan yang kian intensif di wilayah industri vital negara itu.
Rangkaian peristiwa ini memperpanjang deretan serangan udara terhadap infrastruktur sipil dan energi Kerajaan Arab Saudi. Eskalasi konflik antara milisi Houthi dan koalisi pemerintah Yaman yang didukung Riyadh terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir, memicu kekhawatiran geopolitik yang lebih luas.
Sebelumnya, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh juga menjadi sasaran tembakan proyektil yang mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Gelombang insiden yang berulang ini mendorong pengetatan standar keamanan pada berbagai simpul transportasi udara nasional.
Merespons perkembangan situasi yang semakin dinamis, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menginstruksikan pemulangan staf diplomatik non-esensial beserta keluarga mereka dari kawasan Saudi Arabia. Langkah antisipatif tersebut diambil guna memitigasi risiko keamanan di tengah tingginya frekuensi serangan udara di wilayah regional.










