TVRINews – Jakarta
Kelumpuhan Jalur Vital Teluk Persia Diprediksi Memicu Lonjakan Harga Minyak Hingga $150 per Barel.
Ancaman penutupan Selat Hormuz akibat meningkatnya eskalasi militer di kawasan Teluk Persia berpotensi memicu guncangan ekonomi paling parah dalam sejarah modern. Jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia tersebut kini berada dalam status siaga tinggi.
Mengacu pada data World Bank dan US Energy Information Administration (EIA), Selat Hormuz dilintasi oleh 20% hingga 25% pasokan minyak mentah dunia (sekitar 18–21 juta barel per hari) serta 20% pasokan Gas Alam Cair (LNG) global. Penutupan penuh di jalur ini diperkirakan bakal memangkas pasokan minyak harian secara mendadak hingga 10 juta barel.
Para analis dari Rystad Energy memproyeksikan harga minyak mentah jenis Brent dapat melonjak tajam dari level stabil ke kisaran $110 hingga $150 per barel dalam waktu singkat jika blokade maritim terjadi.
Ancaman Stagflasi dan Krisis Pangan
Dampak penutupan tidak hanya berhenti pada sektor bahan bakar domestik. Lonjakan harga energi dipastikan bakal mengerek biaya logistik, manufaktur, dan distribusi barang di seluruh penjuru dunia, yang berujung pada ancaman cost-push inflation atau stagflasi global.
Kondisi tersebut diprediksi memaksa bank sentral utama dunia, seperti US Federal Reserve (The Fed) dan European Central Bank (ECB), untuk membatalkan rencana penurunan suku bunga dan menerapkan kebijakan moneter ketat demi menahan laju inflasi.
Selain sektor energi, industri pertanian global turut berada di ambang krisis. Kawasan Teluk menyumbang sekitar 30% hingga 35% ekspor urea dunia serta 20% hingga 30% amonia. Terhentinya pasokan bahan baku pupuk buatan ini berpotensi menurunkan produktivitas panen global dan memicu lonjakan harga pangan (food price spikes).
Kerentanan Kawasan Asia Pasifik
Negara-negara di kawasan Asia Pasifik diprediksi menjadi pihak yang paling terdampak oleh krisis ini. Lebih dari 65% ekspor minyak Teluk bermuara ke pasar Asia, termasuk Tiongkok, India, Jepang, dan Indonesia.
Pencabutan penjaminan risiko perang (war-risk coverage) oleh lembaga asuransi maritim internasional seperti Lloyd’s Market Association juga dipastikan membuat armada kargo komersial enggan melintas, sehingga memicu keterlambatan rantai pasok manufaktur secara menyeluruh.
Laporan analisis pasar Reuters dan Bloomberg menyimpulkan bahwa penghentian lalu lintas Selat Hormuz dalam jangka panjang cukup untuk membawa perekonomian global masuk ke jurang resesi.










