TVRINews, Washington DC
Eskalasi Timur Tengah Meningkat, Biaya Perang Tembus USD 37,5 Miliar.
Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah kembali mencatat eskalasi signifikan setelah militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara lanjutan terhadap sejumlah target di Iran.
Operasi militer yang kini memasuki malam kesebelas (selasa 21 Juli 2026) berturut-turut tersebut memicu kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas pasokan energi dunia dan perluasan Front pertempuran regional.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengungkapkan bahwa eskalasi militer ini telah menyedot anggaran masif. Berdasarkan kalkulasi Pentagon, total biaya operasional perang melawan Iran sejauh ini telah mencapai USD 37,5 miliar atau setara dengan kisaran Rp609 triliun.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah persiapan Partai Republik di Kongres untuk menggodok paket anggaran pertahanan senilai USD 95 miliar guna mendanai kebutuhan militer serta prioritas strategis Gedung Putih lainnya.
Di tengah memanasnya situasi, Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Trump mengancam akan segera mengerahkan serangan lanjutan dengan intensitas tinggi terhadap fasilitas nuklir Iran yang disinyalir berada di kawasan pegunungan Pickaxe, serta situs nuklir Natanz.
Ancaman ini langsung dibalas oleh pihak berwenang Iran yang bersumpah akan memperluas cakupan perang di kawasan jika agresi terus berlanjut.
Dampak militer tersebut kini meluas melampaui teritorial langsung kedua negara. Pasukan Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan yang menargetkan instalasi militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Selain itu, sebuah kapal tanker minyak dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi global yang terletak di mulut Teluk Persia.
Tekanan terhadap jalur logistik energi internasional turut dirasakan di Laut Merah. Dua kapal tanker minyak yang membawa pasokan minyak mentah asal Arab Saudi menuju pasar Asia terpaksa memutar balik haluan setelah kelompok Houthi di Yaman melayangkan ancaman terbuka.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Trump menyatakan bahwa kelompok Houthi hingga kini belum sepenuhnya menutup Selat Bab el-Mandeb, namun ia menegaskan kesiapan Washington untuk mengambil tindakan tegas jika jalur pelayaran strategis tersebut benar-benar ditutup.
Di jalur diplomasi, upaya penengahan internasional mulai diintensifkan guna meredam eskalasi. Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, dilaporkan menggelar perundingan tingkat tinggi di Islamabad dengan para pejabat senior Pakistan, termasuk Panglima Militer Jenderal Asim Munir. Pertemuan ini difokuskan untuk mencari formula diplomatik demi membendung krisis regional yang kian melebar.
Sementara itu, dinamika politik luar negeri juga terlihat di Washington. Presiden Donald Trump mengadakan pertemuan bilateral di Gedung Putih dengan Presiden Lebanon, Joseph Aoun pada hari selasa 21 Juli 2026.

(Presiden AS Trump (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, Senin, 21 Juli 2026 di Gedung Putih, Washington, DC, Amerika Serikat [Foto: Evelyn Hockstein/Reuters])
Dalam kesempatan tersebut, Trump berjanji membantu Lebanon dalam proses pemulihan dan menyatakan niatnya untuk memediasi perdamaian dengan Israel. Kendati demikian, Gedung Putih belum memberikan kepastian mengenai jadwal penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon selatan.
Sebagai bagian dari langkah diplomasi bilateral, Trump mengumumkan kebijakan mengejutkan dengan mengizinkan kembali maskapai penerbangan komersial Amerika Serikat untuk membuka rute penerbangan langsung menuju Lebanon. Kebijakan ini mengakhiri moratorium keselamatan penerbangan yang telah diberlakukan Washington selama lebih dari empat dekade terakhir.
Gelombang ketegangan geopolitik ini kontan langsung direspons oleh pasar keuangan global. Harga minyak dunia mengalami lonjakan lebih dari 2 persen pada perdagangan Selasa, dengan patokan harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran atas USD 91 per barel akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi jangka panjang.










