TVRINews, Georgetown
Tim SAR gabungan memperluas area pencarian menyusul tenggelamnya kapal feri di lepas pantai Guyana, sementara penyelidikan mengarah pada dugaan kelalaian awak kapal.
Otoritas berwenang di Guyana mengonfirmasi lonjakan korban jiwa dalam insiden maritim terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Jumlah korban tewas akibat tenggelamnya kapal feri MV Barima kini mencapai sedikitnya 41 orang, seiring kerja keras tim pencari yang terus menyisir perairan lepas pantai negara tersebut.
Pemerintah setempat pada hari Selasa 21 Juli 2026 menyatakan bahwa tim penyelamat berhasil menemukan 14 jenazah tambahan. Angka ini bertambah dari laporan sehari sebelumnya yang mencatat 27 korban meninggal dunia, menyusul insiden terbaliknya kapal nahas tersebut pada Sabtu malam.
Di tengah duka yang mendalam, sebanyak 77 orang berhasil diselamatkan dari musibah ini. Namun, operasi pencarian dan penyelamatan masih terus digencarkan untuk menemukan puluhan korban lain yang hingga kini belum diketahui statusnya.
Berdasarkan keterangan resmi pejabat berwenang yang dikutip AFP, kapal feri tersebut mengangkut total 179 orang saat insiden terjadi. Jumlah ini jauh melampaui data manifes penumpang yang hanya mencatat 133 nama.
Menteri Pekerjaan Umum Guyana, Juan Edghill, menilai peristiwa ini sebagai tragedi maritim paling mematikan di negara tersebut dalam kurun waktu beberapa dekade. Ia menegaskan bahwa pemerintah mengerahkan seluruh sumber daya yang ada demi menemukan para korban yang hilang.
"Kami mengerahkan 16 kapal ke lokasi bangkai kapal, di mana para penyelam profesional asal Prancis dan lokal memimpin langsung operasi di bawah air," ujar Edghill dalam keterangannya.
Kapal feri MV Barima diketahui sedang dalam perjalanan dari ibu kota Georgetown menuju Port Kaituma, sebuah wilayah pedalaman di kawasan Essequibo. Rute pelayaran tersebut umumnya melintasi Laut Atlantik sebelum memasuki jalur sungai menuju kawasan hutan hujan yang lebat.
Dugaan Kelalaian dan Tes Positif Narkoba
Penyelidikan awal mengindikasikan adanya sejumlah pelanggaran prosedur yang memperparah dampak kecelakaan. Otoritas menyoroti ketidaksesuaian data manifes penumpang serta indikasi penyalahgunaan obat-obatan terlarang di kalangan awak kapal.
Kepolisian setempat mengumumkan bahwa nakhoda kapal beserta sekurang-kurangnya seorang kru lainnya telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Langkah tersebut diambil setelah keduanya menunjukkan hasil positif dalam tes penggunaan ganja.
"Kami menerapkan kebijakan tanpa toleransi bagi anggota kru yang mengonsumsi minuman keras atau merokok saat bertugas. Terlebih dengan adanya hasil tes positif dari sang nakhoda, ini adalah perkara yang sangat serius," tegas Juan Edghill.
Berdasarkan data dari situs pelacakan maritim VesselFinder, kapal feri yang mengalami musibah tersebut tercatat telah beroperasi sejak tahun 1939. Faktor usia kapal serta aspek kelaikan laut kini turut menjadi materi investigasi mendalam oleh tim ahli transportasi.
Guyana merupakan negara berukuran kecil di sudut timur laut Amerika Selatan yang sebagian besar penduduknya berbahasa Inggris. Negara ini secara geopolitik juga tengah menjadi sorotan internasional di tengah sengketa wilayah berkepanjangan dengan negara tetangga, Venezuela, terkait kawasan Essequibo yang kaya akan cadangan minyak.










