TVRINews – Teheran
Ketegangan Teluk Memuncak: Tehran Ancam Balas Negara Pendukung Sanksi AS
Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengeluarkan peringatan keras pada Minggu 23 Agustus 2026. Tehran menegaskan bahwa dukungan dari negara mana pun terhadap kebijakan ekonomi baru Amerika Serikat akan dikategorikan sebagai tindakan perang terbuka.
Pernyataan bernada tinggi ini disampaikan di tengah persiapan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, untuk mengumumkan paket sanksi ekonomi lanjutan. Washington sebelumnya telah mendeklarasikan penerapan tekanan maksimal atau economic warfare terhadap Republik Islam tersebut, menyusul kebuntuan diplomatik yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berupaya meredakan ketegangan domestik dan eksternal. Ia mempertahankan nota kesepahaman yang dicapai dengan pihak Amerika sebagai jalan keluar terbaik dari konflik berkepanjangan yang melumpuhkan perekonomian nasional.
"Tidak ada satu pun ketentuan dalam perjanjian ini yang bermaksud menyerah," ujar Pezeshkian dalam pidatonya yang dipublikasikan oleh kantor berita resmi IRNA. Ia menambahkan bahwa kepemimpinan tertinggi negara tetap memegang kendali penuh atas arah kebijakan strategis tersebut.
Upaya diplomasi tingkat tinggi kini tengah digalakkan untuk mencegah eskalasi militer lebih lanjut. Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, dijadwalkan memimpin delegasi ke Tehran pada Senin guna memediasi dialog antara kedua belah pihak yang berseteru.
Sementara itu, situasi di Selat Hormuz terpantau tanpa insiden serangan langsung dalam 48 jam terakhir. Namun, otoritas maritim baru Iran tetap menerapkan pembatasan ketat serta ancaman sanksi bagi puluhan kapal komersial yang dinilai melanggar aturan transit di jalur pelayaran vital internasional tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, eskalasi konflik regional juga masih meluas ke wilayah pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza, di mana rentetan kekerasan dan serangan udara terus memakan korban jiwa dari kalangan sipil.










