Penulis: M. Fariz Naufal
TVRINews, Brussels
Polisi menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa yang melempari petugas dengan batu dan kembang api ketika demonstrasi di Brussels, Belgia. Unjuk rasa ini menentang kebijakan pembatasan Covid-19 yang diberlakukan pemerintah, namun berubah menjadi kerusuhan.
Beberapa ribu pengunjuk rasa berbaris melalui pusat ibukota Belgia ke wilayah yang menjadi titik dari markas besar lembaga-lembaga Uni Eropa.
Di kawasan Uni Eropa, sekelompok pengunjuk rasa yang mengenakan kerudung hitam dan meneriakkan "liberte" (kebebasan) mulai melemparkan batu ke arah polisi.
Menurut rekaman dan laporan dari wartawan Reuters yang ada di lokasi, polisi membalasnya dengan menembakan gas air mata dan meriam air.
Para demonstran memprotes aturan yang diberlakukan pemerintah pada Oktober, yang mewajibkan warga untuk menunjukkan surat izin vaksin Covid-19 terlebih dahulu untuk memasuki bar dan restoran.
“Saya tidak bisa menanggung diskriminasi dalam bentuk apapun, dan sekarang ada izin vaksin yang diskriminatif” kata salah satu pengunjuk rasa, guru seni bela diri Alain Sienaort.
"Itu semua diskriminasi, jadi kami harus melawannya. Kami tidak menginginkan kediktatoran."
Protes tersebut mengikuti langkah-langkah baru yang diumumkan pada hari Jumat (3/12) untuk menekan salah satu tingkat infeksi tertinggi di Eropa, termasuk wajib mengenakan masker untuk sebagian besar anak sekolah dasar, serta perpanjangan liburan sekolah.










