TVRINews – London, Inggris
Sejumlah negara melarang kedatangan dan memperketat pemeriksaan di bandara guna membendung penyebaran galur langka Bundibugyo.
Gelombang baru wabah virus Ebola dengan varian langka Bundibugyo yang melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda memicu respons cepat dari berbagai belahan dunia.
Guna mengantisipasi penyebaran yang lebih luas, sejumlah pemerintah secara resmi memberlakukan pembatasan perjalanan dan pengetatan perbatasan.
Berdasarkan data resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga kamis 28 Mei 2026, sebanyak 220 kematian terduga dan 900 kasus suspek akibat galur Bundibugyo (BVD) telah tercatat di DRC sejak Kinshasa mengumumkan status wabah pada 15 Mei lalu. Sementara itu, Uganda sejauh ini telah mengonfirmasi lima kasus dengan satu korban jiwa.
Merespons situasi tersebut, badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut telah menaikkan penilaian risiko dari tingkat 'tinggi' menjadi 'sangat tinggi' di tingkat nasional bagi Kongo. Kendati demikian, WHO menyatakan bahwa risiko penularan di tingkat global saat ini masih berada pada kategori rendah.
Langkah Isolasi di Wilayah Pusat Wabah

Upaya penanggulangan ketat terus digencarkan di episentrum penularan. Kementerian Transportasi dan Komunikasi Kongo pekan ini resmi menangguhkan seluruh aktivitas penerbangan dari dan menuju Bunia, wilayah timur DRC yang menjadi salah satu dari 11 zona kesehatan terdampak.
Otoritas penerbangan dan kesehatan setempat hanya mengecualikan penerbangan darurat, medis, dan kemanusiaan melalui izin khusus.
Langkah serupa diambil oleh Uganda. Otoritas setempat menghentikan sementara seluruh penerbangan langsung dari DRC, serta menutup akses penyeberangan bus dan kapal selama empat pekan ke depan.
Aktivitas pasar mingguan di wilayah perbatasan juga ditangguhkan, sementara arus logistik barang esensial dan pasokan makanan tetap diizinkan melintas dengan pengawasan.
Respons Tegas Amerika Utara dan Karibia
Kebijakan penutupan pembatasan berimbas melampaui wilayah Afrika. Pemerintah Kanada dan Bahama mengumumkan larangan masuk sementara bagi warga yang berasal dari DRC, Uganda, dan Sudan Selatan.
Kanada menetapkan masa larangan kunjungan selama 90 hari yang mulai berlaku pada Rabu 27 Me 2026. Badan Kesehatan Masyarakat Kanada menegaskan bahwa warga negara Kanada, penduduk tetap, maupun warga asing yang memiliki riwayat perjalanan dari wilayah terdampak dalam beberapa pekan terakhir wajib menjalani karantina selama 21 hari terhitung sejak 30 Mei, terlepas dari ada atau tidaknya gejala yang ditunjukkan.
Sementara itu, Pemerintah Bahama memberlakukan pembatasan serupa yang berlaku efektif segera untuk jangka waktu 30 hari, dengan opsi evaluasi berkala oleh kementerian kesehatan setempat.
Pusat Skrining Khusus di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, kebijakan ketat diterapkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Setelah melarang masuknya warga non-negara yang sempat mengunjungi tiga negara terdampak dalam rentang waktu 21 hari, CDC memperluas cakupan aturan tersebut bagi para pemegang kartu hijau (green card holders).
Warga negara AS yang kembali dari wilayah terdampak diwajibkan melalui jalur khusus di bandara-bandara terpilih yang dilengkapi fasilitas pemantauan intensif, antara lain:
• Bandara Internasional Washington Dulles (IAD)
• Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta (ATL)
• Bandara Internasional George Bush (IAH) di Houston
Melansir laporan dari The Wall Street Journal, pemerintahan Trump dikabarkan tengah mempersiapkan penempatan petugas kesehatan masyarakat AS ke Kenya. Langkah ini bertujuan untuk mengelola fasilitas karantina potensial bagi warga Amerika yang terpapar, berisiko tinggi, atau telah dinyatakan positif terinfeksi di kawasan tersebut.
Di Timur Tengah, Yordania dan Bahrain juga mengambil langkah serupa dengan menangguhkan izin masuk bagi pelaku perjalanan dari negara-negara terdampak demi menjaga status bebas kasus di wilayah mereka.
Penundaan Agenda Internasional di Asia
India mengambil langkah preventif dengan menerapkan skrining tambahan di seluruh bandara internasional utama dan mengeluarkan imbauan perjalanan agar warganya menghindari kunjungan ke kawasan Afrika Timur yang terdampak.
Akibat situasi ini, New Delhi resmi menunda agenda KTT India-Afrika yang dijadwalkan berlangsung pekan ini, serta membatalkan pertemuan Aliansi Kucing Besar Internasional (International Big Cat Alliance).
Di Asia Tenggara, Pemerintah Thailand menetapkan bahwa kedatangan dari DRC dan Uganda hanya diizinkan melalui Bandara Suvarnabhumi Bangkok, itu pun setelah dinyatakan negatif dalam pemeriksaan kesehatan saat mendarat. Langkah pengetatan serupa juga diumumkan oleh Sekretaris Kesehatan Meksiko di gerbang-gerbang udara negaranya.
Tantangan Logistik dan Keamanan Penerbangan
Galur Bundibugyo dikenal sebagai salah satu spesies virus Ebola yang sangat fatal dan menyebabkan demam berdarah virus yang parah. Penularannya terjadi melalui kontak fisik langsung dengan darah, cairan tubuh pasien atau jenazah, serta benda yang telah terkontaminasi.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memaparkan bahwa strategi penanganan di tingkat domestik saat ini berfokus pada pelacakan kontak erat, pembangunan pusat perawatan, serta pengendalian infeksi. Namun, ia mengakui adanya tantangan besar dalam penanganan di lapangan.
"Keterlambatan dalam mendeteksi wabah ini membuat kita sekarang harus mengejar ketertinggalan dari epidemi yang bergerak sangat cepat. Kami sedang meningkatkan operasi secara mendesak, tetapi saat ini, pergerakan epidemi melampaui kecepatan kita," ujar Tedros dalam pernyataan resminya pekan ini.
Meski demikian, ia tetap optimis. "Namun, kita mengenal virus ini dan kita tahu cara menghentikannya. Kita telah menghentikan setiap wabah Ebola sebelumnya, dan kita juga akan menghentikan yang satu ini."
Terkait mobilitas udara global, Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak maskapai dan pemerintah di seluruh dunia untuk mematuhi protokol kesehatan contactless yang dikembangkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).
Dalam pernyataan resminya, ICAO menegaskan bahwa penerbangan internasional saat ini masih berada dalam status aman. Badan tersebut mengimbau negara-negara anggota untuk tidak menutup total perbatasan atau membatasi sektor perdagangan, melainkan lebih menitikberatkan fokus pada proses pemeriksaan keberangkatan (exit screening) di negara-negara asal wabah untuk mendeteksi indikasi penyakit terkait demam secara dini.










