TVRINews - Teheran
Setelah berbulan-bulan terisolasi, pemulihan jaringan digital di Iran justru memicu kecemasan dan respons skeptis dari warga sipil.
Setelah mengalami pemadaman akses digital total selama 88 hari, jaringan internet di Iran dilaporkan mulai aktif kembali secara parsial. Kendati pesan yang tertunda, dokumentasi gambar, dan unggahan media sosial mulai memadati gawai penduduk sejak Rabu 27 Mei 2026 petang waktu setempat, respons yang muncul dari lapisan masyarakat sipil jauh dari kesan euforia. Sebaliknya, pemulihan sepihak ini disambut dengan skeptis, kecemasan, serta kepedihan yang mendalam.
Otoritas keamanan Iran sebelumnya memberlakukan pemblokiran total sejak awal Januari sebagai respons atas gelombang demonstrasi antipemerintah yang meluas di berbagai wilayah.
Situasi digital kian memburuk menyusul ketegangan geopolitik akibat serangan militer eksternal pada akhir Februari, yang mengisolasi mayoritas dari 85 juta populasi Iran dari dunia luar secara digital.
Bagi sebagian warga yang berhasil terhubung kembali, momen ini dipenuhi oleh luapan emosional. Kepada AFP, Ellie (42) seorang seniman yang menetap di Teheran, menceritakan pengalamannya saat berhasil mengakses jaringan untuk pertama kalinya sejak akhir Februari lalu.
"Saya menyalakan rokok, memutar SoundCloud, dan mendengarkan musik favorit kami," ujar Ellie. "Suami saya, Ali, dan saya menahan air mata, lalu menangis. Kami berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ini adalah secuil rasa dari kebebasan yang jauh lebih besar kelak setelah runtuhnya rezim ini, dan kami sungguh mempercayainya."
Langkah pemulihan parsial ini sempat memicu narasi positif dari sejumlah media barat dan pihak yang berafiliasi dengan pemerintah. Namun, bagi para pelaku industri kreatif dan pekerja lepas domestik, kebijakan ini dinilai belum membawa perubahan signifikan bagi roda perekonomian mereka yang telah lumpuh total selama hampir tiga bulan.
Maryam, seorang fotografer profesional di ibu kota, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap perayaan kepulihan digital yang dinilai semu. Menurutnya, pemulihan sebagian ini tidak serta merta mengembalikan mata pencahariannya yang terputus total selama lebih dari enam minggu akibat tidak tersedianya koneksi data seluler yang stabil.
"Sangat menggelikan melihat media luar merayakan pemulihan parsial ini seolah-olah itu adalah pencapaian rezim yang patut diapresiasi. Internet adalah hak dasar kami," tegas Maryam. Ia menambahkan bahwa saat ini internet seluler tetap tidak bisa terhubung, aplikasi pesan instan seperti WhatsApp nyaris tidak berfungsi, dan masyarakat hanya bergantung pada jaringan VPN yang sedikit lebih mudah diakses.
Di sisi lain, kebijakan Dewan Keamanan Nasional Iran yang merilis program "Internet Pro" sejak bulan lalu bagi sektor bisnis tertentu justru memicu kekhawatiran baru mengenai peningkatan penetrasi pengawasan digital (surveillance).
Para aktivis hak asasi manusia khawatir bahwa infrastruktur baru ini dirancang untuk menggiring opini publik ke dalam koridor jaringan domestik yang sepenuhnya dipantau oleh otoritas keamanan negara.
Mina (23), seorang demonstran yang sempat ditahan pada Januari lalu, mengonfirmasi kekhawatiran tersebut. Ia menegaskan bahwa pembukaan blokir ini bukanlah indikator kembalinya kebebasan sipil, melainkan taktik untuk memetakan dan mengontrol aktivitas digital masyarakat secara lebih ketat melalui sistem penyaringan berlapis atau yang mereka sebut sebagai filternet.
Seiring dengan terhubungnya kembali jaringan, lini masa media sosial di Iran kini justru dipenuhi oleh dokumentasi duka cita. Unggahan video memperlihatkan para ibu yang menangisi kepergian anak-anak mereka dalam kerusuhan Januari, serta rekaman kehancuran infrastruktur pasca-konflik bersenjata. Platform digital beralih fungsi menjadi arsip digital kolektif atas hilangnya nyawa dan ruang hidup warga.
"Akun saya dipenuhi video pemakaman dengan ibu-ibu yang meratap dan ayah yang berteriak di atas makam anak-anak mereka. Hati saya terasa jauh lebih berat sekarang," ungkap Amin, seorang profesor universitas di Teheran.
"Kami adalah korban terbesar dari ketegangan ini. Bukan pihak asing, bukan pula entitas politik yang bertikai. Kami kehilangan mata pencaharian, masa muda, dan kepercayaan terhadap komunitas internasional. Apa yang kembali daring adalah penderitaan kami, bukan kebebasan," pungkas Amin yamh dikutip The Guardian Kamis 28 Mei 2026.
Dampak psikologis ini juga dirasakan oleh komunitas diaspora Iran di luar negeri. Mahshid Nazemi (38), seorang pembela hak asasi manusia yang berbasis di Paris, menyatakan bahwa terhubungnya kembali komunikasi membawa perasaan yang campur aduk. Ia dilingkupi kecemasan saat memeriksa akun kerabat di tanah air yang masih belum aktif, mengkhawatirkan kemungkinan penahanan sewenang-wenang atau kehilangan nyawa yang belum terkonfirmasi selama masa pemadaman informasi.










