TVRINews – Riyadh
Eskalasi Konflik Memanas, Mesir Pertimbangkan Bantuan Militer untuk Arab Saudi
Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan keberhasilan mencegat dan menghancurkan empat pesawat tanpa awak (drone) yang mengarah ke beberapa wilayah strategis, termasuk ibu kota Riyadh, Provinsi Timur, serta kawasan selatan pada Sabtu 17 Oktober 2026. Eskalasi ini memperpanjang deretan serangan udara yang menargetkan fasilitas vital dan infrastruktur penerbangan di wilayah kerajaan tersebut.
Juru Bicara Koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengonfirmasi tindakan penangkalan tersebut dalam sebuah pernyataan resmi. Pihak koalisi juga merilis rekaman audio-visual yang menampilkan proses pencegahan rudal jelajah serta penghancuran peluncur rudal balistik milik milisi Houthi.
"Kami telah mencegat dan menghancurkan empat drone dalam beberapa jam terakhir di wilayah Riyadh, Provinsi Timur, dan area Selatan," ujar al-Maliki di hadapan Media.
Rentetan serangan udara ini mempertegas situasi keamanan yang kian menguji stabilitas kawasan. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh mencatatkan setidaknya 20 kali ancaman serangan sejak bentrokan antara milisi Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung koalisi kembali memanas pertengahan tahun ini. Salah satu insiden terbesar pekan lalu bahkan mengakibatkan 13 korban jiwa.
Eskalasi juga meluas hingga ke Aden, pusat pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Serangan rudal di sekitar kompleks istana kepresidenan Aden pada Kamis 15 Oktober 2026 lalu merenggut sedikitnya lima nyawa, disusul penembakan dua rudal tambahan yang mengarah ke bandara setempat pada Jumat. Di sisi lain, pasukan pemerintah mengklaim mengalami kemajuan teritorial di Provinsi Marib, sebelah timur laut Sanaa.
Menanggapi dinamika keamanan yang memburuk, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menyatakan kesiapan kairo untuk mengambil tindakan pertahanan jika diminta secara resmi oleh pihak Arab Saudi. Kendati menegaskan komitmennya terhadap stabilitas kawasan, el-Sisi menyuarakan bahwa Mesir tidak bermaksud terlibat dalam konflik ofensif.
"Kami tidak berbicara tentang menyerang atau bertempur melawan siapa pun. Fokus kami murni pada upaya pertahanan," kata el-Sisi. Ia menambahkan bahwa Mesir tidak mungkin tinggal diam jika keamanan Arab Saudi terancam. Parlemen Mesir dijadwalkan menggelar sidang darurat pada Minggu untuk membahas perkembangan situasi tersebut.
Dari sudut pandang diplomatik, Arab Saudi mengindikasikan adanya keterlibatan pihak eksternal dalam mendorong eskalasi ini. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyuarakan sikap bahwa Tehran mendukung proses politik yang komprehensif sebagai satu-satunya jalan keluar yang berkelanjutan bagi konflik Yaman.
Dampak dari situasi keamanan ini mulai memengaruhi aktivitas publik dan diplomatik. Sejumlah kedutaan besar negara sahabat telah memperketat imbauan perjalanan bagi warga negaranya, sementara Kementerian Pendidikan Arab Saudi mengambil langkah antisipatif dengan memperpanjang kebijakan pembelajaran jarak jauh bagi para siswa di kawasan Riyadh dan Diriyah.










