TVRINews – US
Pertemuan atas permintaan AS, China tetap tunjukkan kekuatan di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik.
Setelah lebih dari dua tahun saling balas tarif, Amerika Serikat dan China akhirnya sepakat untuk kembali duduk di meja perundingan. Pertemuan tingkat tinggi antara pejabat dagang utama kedua negara akan berlangsung di Swiss pada Sabtu (17/5) mendatang, menjadi yang pertama sejak Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif impor terhadap China pada Januari lalu.
Ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia ini telah mencapai puncaknya, dengan tarif saling balas mencapai 125%, bahkan beberapa produk China dikenakan bea masuk hingga 245% oleh AS. Meskipun saling tuding dan retorika tajam telah mewarnai hubungan keduanya, sinyal keinginan untuk memecah kebuntuan mulai terlihat dalam beberapa pekan terakhir.
"Tak satu pun pihak ingin terlihat mundur," ujar Stephen Olson, peneliti senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura dan mantan negosiator dagang AS. "Namun kini, keduanya menilai waktu sudah tepat untuk maju tanpa kehilangan muka." Kepada BBC News.
China menegaskan bahwa pertemuan ini digelar atas permintaan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan bahwa dialog ini merupakan tanggapan terhadap permintaan dari pelaku usaha dan konsumen AS. Sebaliknya, pemerintahan Trump mengklaim bahwa China-lah yang sebenarnya lebih membutuhkan kesepakatan karena "ekonominya sedang runtuh".
Presiden Trump sempat menyatakan, “Siapa yang menghubungi dulu tidak penting. Yang penting adalah apa yang terjadi di ruang perundingan nanti.”
Pertemuan ini juga berlangsung di tengah kunjungan Presiden Xi Jinping ke Moskow, di mana ia tampil sebagai tamu kehormatan dalam parade Hari Kemenangan Perang Dunia II. Kehadiran Xi bersama pemimpin negara-negara Selatan Global dinilai sebagai sinyal bahwa China tidak berdiri sendiri dan ingin menampilkan diri sebagai pemimpin global alternatif.
Tekanan Ekonomi Mendorong Negosiasi :
Kedua negara sama-sama merasakan dampak ekonomi dari perang tarif ini. Di China, data pemerintah menunjukkan penurunan aktivitas manufaktur pada April, mencapai titik terendah sejak Desember 2023. Survei media Caixin juga menunjukkan penurunan aktivitas jasa ke titik terendah dalam tujuh bulan terakhir. Barang-barang ekspor China menumpuk di gudang akibat hambatan masuk ke pasar AS.
“China tampaknya menyadari bahwa kesepakatan lebih baik daripada tidak ada kesepakatan sama sekali,” kata Bert Hofman, profesor di East Asian Institute, Universitas Nasional Singapura.
Sementara di AS, ketidakpastian tarif telah menyebabkan kontraksi ekonomi pertama dalam tiga tahun terakhir. Sejumlah industri yang bergantung pada produk China sangat terdampak. Seorang pengusaha mainan di Los Angeles bahkan menyebut ancaman “runtuhnya rantai pasok secara total.”
Trump sendiri mengakui bahwa konsumen AS akan merasakan dampaknya. “Anak-anak Amerika mungkin hanya punya dua boneka, bukan 30, dan harganya bisa beberapa dolar lebih mahal,” ujarnya dalam rapat kabinet.
Tekanan ekonomi ini juga berimbas pada penurunan tingkat kepuasan publik terhadap Trump, dengan lebih dari 60% warga AS menilai ia terlalu fokus pada tarif.
“Pertemuan beberapa hari di Jenewa akan memberikan sinyal ketenangan bagi pasar, pelaku bisnis, dan publik di kedua negara,” tambah Olson.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Meski pertemuan ini menimbulkan harapan, jalan menuju kesepakatan tidak akan mudah. Menurut Hofman, pertemuan ini lebih bersifat penjajakan awal dan pertukaran posisi, yang bila berjalan baik akan menghasilkan agenda perundingan lanjutan.
Dalam masa jabatan pertamanya, Trump dan China pernah menandatangani kesepakatan “fase satu” pada awal 2020, namun kesepakatan itu tidak menyentuh isu-isu utama seperti subsidi industri atau penghapusan tarif sepenuhnya. Tarif tersebut bahkan bertahan hingga era Joe Biden, dan kini diperkuat lagi oleh kebijakan terbaru Trump.
Menurut Olson, yang bisa muncul kali ini adalah “kesepakatan fase satu versi steroid” yakni kesepakatan yang lebih ambisius, termasuk isu seperti perdagangan fentanil ilegal hingga hubungan China-Rusia. Tapi para ahli menilai itu masih jauh di depan.
“Friksi sistemik dalam hubungan dagang AS-China tidak akan selesai dalam waktu dekat,” ujar Olson. “Pertemuan di Jenewa kemungkinan hanya akan menghasilkan pernyataan normatif tentang ‘dialog terbuka’ dan keinginan untuk terus berbicara.” Kutip BBC News.
Baca Juga: Paus Leo XIV Rayakan Misa Pertama, Sejarah Baru dari Amerika










