TVRINews – Amman, Yordania
Aksi Penembakan Saat Prosesi Pemakaman di Karak Pertajam Ketegangan Keamanan Nasional
Gelombang duka dan ketegangan melanda Yordania setelah sekelompok penyerang bersenjata menyerbu sebuah gereja di kawasan Hmoud, Provinsi Karak. Insiden tragis yang terjadi pada Jumat 23 Oktober 2026 tersebut menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 34 lainnya di tengah prosesi penghormatan terakhir bagi seorang warga lokal.
Berdasarkan keterangan resmi otoritas setempat yang dikutip BBC News Sabtu 24 Oktober 2026, para pelaku tiba menggunakan kendaraan roda empat, menerobos area tempat ibadah, lalu melepaskan tembakan secara beruntun ke arah pelayat sebelum melarikan diri dari lokasi kejadian. Hingga saat ini, belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas aksi pembantaian tersebut.
Menteri Dalam Negeri Yordania, Mazen al-Faraya, dalam konferensi pers menegaskan bahwa aparat keamanan sedang bergerak cepat untuk menangkap seluruh pelaku, yang ia gambarkan sebagai kelompok ekstremis. Aksi ini dinilainya sebagai peristiwa yang sangat memprihatinkan dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Yordania.
Raja Yordania, Abdullah II, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus memberikan instruksi tegas kepada seluruh jajaran penegak hukum. Otoritas Kerajaan berkomitmen menindak tegas aksi terorisme di Karak dengan hukuman paling berat.
Informasi awal mengenai jumlah korban sempat mengalami penyesuaian. Juru bicara pemerintah sempat mengonfirmasi enam korban jiwa, sebelum akhirnya data resmi mengukuhkan kembali angka kematian sebanyak tujuh orang.
Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang telah diverifikasi menunjukkan tiga pria bersenjata bergerak dari arah jalan raya menuju kompleks gereja. Dua di antaranya sempat mendekati akses masuk kendaraan, mundur sejenak, lalu kembali bersama pelaku ketiga dengan membawa senjata api jenis pistol.
Sejumlah saksi mata menggambarkan kepanikan luar biasa yang terjadi di dalam bangunan saat tembakan berkecamuk. Khalid al-Mdanat, seorang saksi yang berada di lokasi, menuturkan bahwa serangan berlangsung sekitar 15 menit.
Para pelayat berhamburan mencari perlindungan di bawah bangku gereja guna menghindari rekoset peluru dan serpihan kaca. Menurut keterangannya, para pelaku melarikan diri menggunakan truk pikap sambil terus melepaskan tembakan melingkar.
Saksi lain menceritakan suasana mencekam yang menyerupai zona konflik. Ledakan mendadak dan dentuman senjata mesin terdengar hanya beberapa detik setelah doa bersama usai, menyisakan pemandangan memilukan di area halaman maupun interior gereja.
Pengamanan ketat kini diberlakukan di sekitar fasilitas medis tempat para korban luka menjalani perawatan. Penutupan akses jalan di sekitar rumah sakit memicu gelombang duka dan kemarahan publik, khususnya dari pihak keluarga korban dan warga Karak, wilayah yang dikenal memiliki populasi komunitas Kristen cukup signifikan.
Kecaman internasional turut mengalir pascainsiden tersebut. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengutuk keras serangan teror yang dinilainya telah melanggar kesucian prosesi pemakaman serta mencoreng nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan.










