TVRINews – Filipina
Blokade Minyak Laut Merah Picu Krisis Energi Asia
Krisis energi global kembali membayangi kawasan Asia. Kawasan ini kini menghadapi ancaman guncangan pasokan lanjutan setelah jalur vital pelayaran minyak di Timur Tengah kembali lumpuh.
Blokade maritim yang terjadi di Laut Merah memaksa sejumlah negara besar di Asia untuk bersiap menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Filipina, dan Thailand kini berada dalam situasi rentan. Kawasan ini sebelumnya masih terguncang akibat penutupan Selat Hormuz.
Situasi tersebut semakin diperparah oleh aksi kelompok Houthi di Yaman yang memblokade jalur pengiriman minyak Arab Saudi melalui Selat Bab al-Mandab, pintu gerbang selatan menuju Laut Merah.
Ancaman ini membuat harga minyak mentah kembali meroket melewati angka USD 100 per barel. Padahal, sebagian besar negara di Asia masih sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, dengan tingkat ketergantungan impor mencapai hingga 90 persen.
"Mereka sedang mengeruk dasar tong dalam hal kapasitas cadangan global... persediaan saat ini sangat sedikit," ujar Ahmed Helal dari firma konsultan risiko geopolitik, The Asia Group, menggambarkan kondisi cadangan minyak dunia yang kian menipis dikutip Jumat 31 Juli 2026.
Dampak dari krisis ini langsung dirasakan oleh anggaran pemerintah di kawasan. Jepang dan Korea Selatan terpaksa menggelontorkan dana hingga miliaran dolar guna memperpanjang subsidi bahan bakar dan pemotongan pajak demi meredam lonjakan harga di tingkat domestik. Kendati demikian, lonjakan biaya impor tetap memicu tren inflasi yang kian menekan stabilitas fiskal negara-negara seperti Jepang dan Indonesia.
Sebelumnya, Arab Saudi sempat berupaya menyelamatkan pasokan energi Asia dengan mengalihkan ekspor minyak dari pesisir timur ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah, pasca-penutupan Selat Hormuz pada bulan Maret lalu. Jalur alternatif tersebut menjadi penyelamat utama bagi China sebagai pembeli terbesar minyak Saudi, disusul oleh India, Jepang, dan Korea Selatan.
Namun, ancaman serangan Houthi kini menutup celah penyelamatan tersebut. Sejumlah kilang minyak di Jepang dan Korea Selatan dilaporkan berupaya mencari jalur alternatif dengan mengarahkan kapal tanker ke utara melalui Terusan Suez menuju Mediterania atau mengitari Benua Afrika.
Kendati demikian, opsi tersebut membawa konsekuensi biaya logistik yang sangat tinggi. Kapal tanker raksasa jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) dalam muatan penuh tidak dapat melintasi Terusan Suez secara langsung. Hal ini memaksa operator kapal untuk membongkar muatan melalui pipa Sumed di Mesir sebelum melanjutkan perjalanan, atau memilih jalur memutar yang melintasi Tanjung Harapan. Langkah ini otomatis menggandakan durasi pelayaran serta melipatgandakan biaya pengapalan dan bahan bakar.
Lonjakan risiko keamanan ini turut direspons oleh industri asuransi global. Premi risiko perang bagi kapal tanker dilaporkan melonjak dua kali lipat dalam sepekan terakhir, menambah beban ratusan ribu dolar AS untuk setiap perjalanan.
"Perubahan perilaku dari kapal-kapal tanker menunjukkan bahwa mereka menganggap ancaman ini dengan serius," kata Matt Smith, Direktur Riset Komoditas di lembaga pemantau pasar Kpler.
Pada akhirnya, beban biaya logistik dan energi yang membengkak ini akan berdampak langsung kepada para konsumen di Asia, yang sebelumnya telah tertekan oleh guncangan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
"Bisnis harus tutup. Mungkin akan ada upaya pengurangan konsumsi pada jam-jam puncak. Dan dalam beberapa kasus ekstrim, risiko gagal bayar akan semakin tinggi," pungkas Helal.









