TVRINews – Teheran
Eskalasi militer Timur Tengah meningkat tajam setelah jeda singkat, memicu kekhawatiran krisis energi global akibat terganggunya jalur pasokan di Selat Hormuz
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas pada hari Kamis 30 Juli 2026, memupus harapan akan penyelesaian cepat atas perang yang telah memasuki bulan kelima. Rangkaian serangan rudal dan drone lintas negara terjadi secara intensif, mengancam stabilitas kawasan yang lebih luas.
Ketegangan melonjak setelah Washington melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran, yang dibalas oleh Teheran dengan rentetan hantaman proyektil ke sejumlah titik strategis di kawasan.
Pemerintah Yordania menyatakan berhasil mencegat rudal-rudal Iran untuk hari kedua berturut-turut, sementara sebuah insiden di Kuwait merenggut korban jiwa dan merusak bangunan milik perusahaan Tiongkok.
Dampak konflik kini kian merambah sektor vital energi internasional. Di Mesir, otoritas pelabuhan melaporkan insiden kebakaran pada dua kapal gas alam akibat serangan drone di Pelabuhan Damietta.
Perdana Menteri Mesir Mustafa Madbouly menyatakan bahwa tim investigasi telah mengamankan serpihan drone guna mengidentifikasi asal-usul peluncurannya, di tengah kekhawatiran bahwa konflik ini mulai menyeret negara-negara kawasan yang sebelumnya tidak terlibat langsung.
"Kami mencatat dengan keprihatinan bahwa situasi keamanan tetap sangat rapuh," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, yang negaranya turut berperan sebagai mediator diplomatik. Upaya dialog saat ini difokuskan untuk memulihkan normalitas di kawasan, khususnya jalur pelayaran vital Selat Hormuz.
Krisis militer ini turut memicu disrupsi ekonomi global yang signifikan. Penghentian pengiriman energi melalui Selat Hormuz membuat lalu lintas kapal tanker merosot drastis ke level terendah masa perang.
Sejumlah produsen minyak utama, termasuk Arab Saudi, harus mencari jalur alternatif yang lebih panjang dan berbiaya tinggi untuk mendistribusikan pasokan minyak mentah ke pasar internasional.
Menteri Pertahanan Arab Saudi, Khalid bin Salman, sebelumnya telah melakukan pertemuan strategis dengan Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance di Washington.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Riyadh menegaskan komitmennya untuk mempertahankan infrastruktur energi dari ancaman milisi, sekaligus menyampaikan desakan agar Washington dan Teheran segera kembali ke meja perundingan guna meredakan eskalasi.









