TVRINews – Washington DC
Dewan Perdamaian umumkan terobosan besar, namun Israel dan Hamas belum berikan tanggapan resmi
Presiden Amerika Serikat mengumumkan pencapaian diplomatik yang disebutnya sebagai tonggak sejarah baru dalam penyelesaian konflik Timur Tengah.
Melalui pernyataan resmi yang dirilis pada platform digital pribadinya Kamis 30 Juli 2026, ia menyatakan bahwa Dewan Perdamaian telah mencapai kesepakatan penting untuk pelucutan senjata menyeluruh bagi seluruh kelompok bersenjata di Jalur Gaza.
"Kesepakatan ini adalah langkah krusial menuju Gaza yang akhirnya akan dipemerintahkan oleh pemerintahan baru Palestina, yang akan bekerja sama erat dengan Dewan Perdamaian untuk membantu rakyat Palestina," ujar Presiden Amerika Serikat dalam pernyataan tersebut. I
a juga menambahkan bahwa langkah ini dirancang untuk memberikan jaminan keamanan bagi Israel, sehingga wilayah Gaza tidak lagi menjadi basis aktivitas kelompok bersenjata.
Berdasarkan rancangan yang dipublikasikan, proses pelucutan senjata tersebut akan dieksekusi secara bertahap. Seiring dengan progres penyerahan senjata, pasukan Israel dijadwalkan menarik diri dari wilayah kantong tersebut.
Pengamanan dan ketertiban selanjutnya akan dikelola oleh Pasukan Stabilisasi Internasional yang berkoordinasi langsung dengan kepolisian baru Palestina.
Pemerintah Amerika Serikat memimpin inisiatif internasional melalui forum Dewan Perdamaian yang melibatkan lebih dari 20 negara. Badan ini dibentuk untuk mengawasi proses rekonstruksi serta transisi tata kelola pemerintahan di Gaza pasca-gencatan senjata yang disepakati pada Oktober 2025.
Kendati demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan maupun konfirmasi resmi dari pihak Israel maupun kelompok Hamas terkait klaim terobosan diplomatik tersebut.
Para pengamat internasional menilai bahwa efektivitas kesepakatan ini sangat bergantung pada kepatuhan pihak-pihak yang terlibat langsung di lapangan.
Dalam pernyataan penutupnya, Presiden Amerika Serikat menyampaikan apresiasi kepada negara-negara mediator, yakni Mesir, Qatar, dan Turki, atas peran aktif mereka dalam menjembatani proses perundingan damai ini.









