TVRINews - Madinah
Berbekal Kursi Roda dan Semangat Ikhlas, Jemaah Tertua Indonesia Menuju Makkah
Di antara ribuan wajah yang memenuhi pelataran hotel di Madinah, terselip sebuah potret keteguhan luar biasa.
Mardijiyono, jemaah haji asal Indonesia yang kini genap berusia 103 tahun, membuktikan bahwa keterbatasan fisik dan usia bukanlah penghalang untuk memenuhi panggilan spiritual ke Tanah Suci.
Pria yang akrab disapa Mbah Mardi ini memulai perjalanan krusialnya dari Madinah menuju Makkah.
Menggunakan kursi roda, ia bergabung dalam rombongan kelompok terbang (kloter) YIA 9, meninggalkan Hotel Makarem Haram View Suites dengan pengawalan ketat dari petugas kesehatan dan pelayanan lansia.
Dedikasi Tanpa Batas Petugas
Proses keberangkatan dilakukan lebih awal dari jadwal semula guna memastikan kenyamanan para jemaah.
Ramlan Sudarto, Ketua Sektor 1 Madinah, menjelaskan bahwa efisiensi waktu menjadi prioritas utama bagi jemaah kategori lanjut usia.
"Apabila seluruh jemaah telah berada di dalam bus dan pengecekan jumlah personel selesai, kami memilih untuk berangkat lebih awal. Ini demi menghindari kelelahan jemaah akibat menunggu terlalu lama di dalam kendaraan," ujar Ramlan dalam keterangannya kepada Tim Media haji Center dikutip Kamis 14 April 2026.
Rombongan tersebut dijadwalkan berhenti sejenak di Masjid Dzulhulaifah, atau yang lebih dikenal sebagai Bir Ali, untuk mengambil miqat dan niat ihram.
Bagi Mbah Mardi dan jemaah lansia lainnya, prosesi ini dilakukan tetap berada di dalam bus untuk menjaga stabilitas fisik sebelum menempuh perjalanan darat menuju Makkah.
Rahasia Kebugaran dan Keikhlasan
Meski sempat menjalani perawatan medis setibanya di Arab Saudi, kondisi kesehatan pria berusia satu abad ini menunjukkan tren positif. Tim medis menyatakan statusnya stabil, didukung oleh semangat mental yang kuat dan nafsu makan yang terjaga.
"Makanannya enak, saya suka," tutur Mbah Mardi dengan kalimat sederhana namun menggambarkan kepuasan hatinya selama berada di tanah para nabi.
Saat ditanya mengenai rahasia umur panjang dan ketangguhannya, Mbah Mardi membagikan filosofi hidup yang bersahaja: hidup tanpa rokok dan senantiasa memelihara rasa ikhlas serta kebahagiaan dalam setiap kondisi.
Kedisiplinannya menjaga kesehatan fisik dan kejernihan pikiran inilah yang membawanya mampu menyelesaikan rangkaian ibadah di Madinah, termasuk berziarah ke Raudhah.
Menuju Puncak Haji
Kini, Mbah Mardi Tengah mempersiapkan menghadapi fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Perjalanannya dari Madinah bukan sekadar perpindahan lokasi geografis, melainkan simbol perjuangan jemaah lansia Indonesia yang menjadi prioritas utama pemerintah tahun ini.
Kehadiran Mbah Mardi di Makkah nantinya tidak hanya sebagai peserta ibadah, tetapi juga sebagai pengingat bagi jemaah lainnya tentang esensi kesabaran dan keteguhan hati dalam menjalani rukun Islam kelima.
Dengan pendampingan berkelanjutan, ia kini bersiap menyempurnakan perjalanan spiritualnya di bawah terik matahari Makkah, membawa harapan dan doa dari tanah air.










