TVRINews, Kyiv
Enam warga sipil tewas dalam serangan udara masif yang memicu respons militer negara-negara tetangga NATO.
Rusia meluncurkan gelombang serangan pesawat nirawak (drone) dalam skala besar yang menargetkan infrastruktur kritis di wilayah barat Ukraina pada Kamis 14 Mei 2026.
Serangan yang terjadi di siang hari ini dilaporkan menewaskan sedikitnya enam orang dan memaksa Polandia, anggota NATO, untuk menyiagakan jet tempurnya. Eskalasi ini menandai berakhirnya gencatan senjata tiga hari yang dimediasi oleh Amerika Serikat pada awal pekan ini.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan bahwa Moskow telah mengerahkan sedikitnya 800 drone sejak tengah malam, dengan pola serangan yang sengaja mendekati perbatasan negara-negara NATO.
"Bukan sebuah kebetulan serangan masif terlama Rusia terhadap Ukraina terjadi tepat saat Presiden Amerika Serikat tiba untuk kunjungan di Tiongkok," ujar Zelensky melalui saluran Telegram resminya.
Ketegangan Diplomatik dan Respons Regional
Serangan kali ini memicu reaksi keras dari Hungaria, yang kini dipimpin oleh pemerintahan baru yang lebih selaras dengan arus utama Eropa. Budapest mengutuk keras serangan yang menyasar wilayah dengan komunitas etnis Hungaria tersebut.
Perdana Menteri Hungaria, Peter Magyar, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memanggil Duta Besar Rusia untuk dimintai keterangan. Langkah ini dipuji oleh Zelensky sebagai sebuah "pesan penting" bagi stabilitas kawasan.
Selain Hungaria, Slovakia dilaporkan menutup pintu perbatasan dengan Ukraina karena alasan keamanan, sementara Moldova melaporkan adanya pelanggaran ruang udara oleh salah satu unit drone Rusia.
Dampak Kerusakan Infrastruktur
Data militer Ukraina menunjukkan bahwa serangan tidak hanya menyasar pemukiman, tetapi juga melumpuhkan sektor energi dan logistik:
• Infrastruktur Kereta Api: Terjadi 23 titik serangan pada jaringan rel nasional, meski operasional diklaim tetap berjalan.
• Sektor Energi: Perusahaan migas negara, Naftogaz, melaporkan kerusakan fasilitas di Kharkiv dan Zhytomyr.
• Korban Jiwa: Tiga orang tewas di wilayah Rivne, sementara kota Zhovkva di barat mengalami pemadaman listrik total.
Intelijen militer Ukraina (HUR) menilai taktik Rusia kali ini dirancang untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara nasional sebelum meluncurkan serangan rudal lanjutan. Penasihat Menteri Pertahanan, Serhiy Beskrestnov, menyoroti evolusi strategi Moskow.
"Drone bergerak pada jarak 5 hingga 10 kilometer dari perbatasan Belarusia untuk membingungkan sistem radar dan menembus wilayah barat yang sebelumnya relatif lebih aman," jelas Beskrestnov. Kutip AFP
Hingga Rabu, 13 Mei malam, pertempuran sengit dilaporkan masih terus berlanjut di garis depan sepanjang 1.200 km, terutama di wilayah Pokrovsk dan Huliaipole, dengan total 187 bentrokan bersenjata tercatat dalam 24 jam terakhir.










