TVRINews, Beijing
Presiden Trump Bertemu Xi Jinping di Tengah Ketegangan Perang Dagang Global.
Lanskap geopolitik dunia kembali tertuju pada Beijing pekan ini. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, pada Kamis hingga Jumat (14 -15 Mei 2026).
Pertemuan bersejarah ini terjadi setelah sempat tertunda selama beberapa pekan akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran di Timur Tengah.
Kunjungan ini menandai kehadiran pertama pemimpin Gedung Putih di tanah China dalam hampir satu dekade terakhir. Fokus utama pembicaraan dipastikan tertuju pada normalisasi hubungan perdagangan yang kian retak dan persaingan supremasi teknologi yang kian tajam.
Pergeseran Orde Dunia

(Foto Ilustrasi Grafis: TVRINews.com (Sumber Data: Al Jazeera))
Dua puluh lima tahun lalu, Amerika Serikat mendominasi hampir seluruh indikator ekonomi utama dunia. Namun saat ini, China tidak lagi sekadar "pabrik dunia", melainkan pesaing tangguh yang melampaui Barat dalam berbagai lini.
Berdasarkan data World Integrated Trade Solution (WITS) Bank Dunia, pada tahun 2001, ekspor AS mencapai $729 miliar, sementara China hanya berada di posisi keempat dengan $266 miliar.
Kini, peta kekuatan telah berbalik. China memimpin sebagai eksportir terbesar dunia dengan nilai barang senilai $3,59 triliun, jauh meninggalkan AS yang mencatatkan angka $1,9 triliun per tahun.
Saling Balas Tarif dan Defisit Perdagangan
Retorika "America First" yang diusung Trump kembali memicu turbulensi. Sejak kembali ke Gedung Putih Januari lalu, Trump menggunakan defisit perdagangan sebagai pembenaran untuk memberlakukan tarif impor global.
"Rata-rata tarif efektif AS terhadap impor dari China kini berada di angka 31,6 persen," lapor Penn Wharton Budget Model.
Sebagai balasan, Beijing tidak tinggal diam. Mengutip laporan kantor berita Reuters, China telah menerapkan serangkaian tarif terhadap ekspor energi dan pertanian utama AS, termasuk pungutan umum sebesar 10 persen untuk semua impor asal AS, dengan biaya tambahan mencapai 77 persen untuk produk spesifik seperti daging sapi.
Perlombaan Teknologi dan Militer

(Foto Ilustrasi Grafis: TVRINews.com (Sumber Data: Al Jazeera))
Meski China unggul dalam volume ekspor, Amerika Serikat tetap memegang kendali di sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor. Investasi korporat AS untuk AI mencapai $109 miliar pada tahun 2024, hampir setara dengan gabungan seluruh dunia.
Namun, di sektor energi hijau dan kendaraan listrik (EV), China melaju tanpa tanding. Hampir separuh mobil baru yang terjual di China pada 2024 adalah mobil listrik, didorong oleh subsidi pemerintah sebesar $230 miliar selama periode 2009-2024.
Di bidang pertahanan, jurang pemisah masih terlihat jelas:
• Amerika Serikat: Menghabiskan $954 miliar (3,1% PDB) untuk militer pada 2025.
• China: Menghabiskan sekitar $336 miliar (1,7% PDB).
Washington masih memiliki keunggulan kualitatif pada kapal selam dan pesawat induk, sementara Beijing menang dalam jumlah kuantitas armada laut.
Senjata Rahasia: Mineral Jarang

(Foto Ilustrasi Grafis: TVRINews.com (Sumber Data: Al Jazeera))
Salah satu poin krusial dalam pertemuan ini adalah kendali atas mineral jarang (rare earth minerals).
China menguasai 44 juta ton cadangan dunia lebih dari separuh total global dan mendominasi proses pemurniannya.










