TVRINews – Manila, Filipina
Presiden Marcos Jr. imbau warga tetap tenang setelah kericuhan pecah di pusat legislatif.
Suasana mencekam menyelimuti gedung Senat Filipina pada Rabu 13 Mei 2026 malam waktu setempat, setelah rentetan tembakan terdengar di tengah upaya otoritas keamanan melakukan penangkapan terhadap Senator Ronald dela Rosa.
Insiden ini memicu kepanikan massal di pusat legislatif tersebut, namun laporan resmi mengonfirmasi tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. segera mengeluarkan pernyataan melalui siaran televisi, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang sementara penyelidikan mendalam atas asal-usul tembakan tersebut dimulai.
Hingga berita ini diturunkan Kamis 14 Mei , belum diketahui secara pasti pihak mana yang melepaskan tembakan maupun motif di baliknya.
Konfrontasi Hukum dan Perlindungan Politik
Kekacauan ini bermula dari upaya penangkapan Senator Ronald dela Rosa, mantan Kepala Polisi Nasional yang merupakan arsitek utama kampanye anti-narkoba di era Presiden Rodrigo Duterte.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah merilis surat perintah penangkapan terhadap dela Rosa atas tuduhan kejahatan kemanusiaan terkait pembunuhan sedikitnya 32 orang dalam operasi kepolisian antara tahun 2016 hingga 2018.
Dela Rosa, yang telah menghilang selama beberapa bulan, muncul kembali pada hari Senin 11 Mei dan langsung berada di bawah "perlindungan hukum" oleh rekan-rekan senatornya.
Ketegangan memuncak ketika agen Biro Investigasi Nasional (NBI) mencoba mengeksekusi penangkapan tersebut di area Senat.
Presiden Senat, Alan Cayetano, yang tampak terguncang saat memberikan keterangan kepada media, menyatakan bahwa institusinya sedang berada dalam tekanan hebat.
"Emosi sangat tinggi di sini. Ini adalah Senat Filipina, dan kami diduga sedang berada di bawah serangan," ujar Cayetano. Dikutip Ap News Kamis 14 Mei.
Penyelidikan dan Keamanan Nasional
Sekretaris Interior, Juanito Victor Remulla Jr., tiba di lokasi bersama petinggi kepolisian untuk mengamankan situasi atas instruksi langsung dari Presiden.
Remulla menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk menangkap dela Rosa, melainkan untuk memastikan keselamatan para anggota legislatif.
"Penyelidikan sedang berjalan. Kami akan memeriksa seluruh rekaman kamera pengawas (CCTV) untuk mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab atas tembakan tersebut dan apa niat mereka," tegas Remulla.
Di luar gedung, ratusan personel kepolisian tetap bersiaga, sebuah langkah yang dikritik oleh kubu pro-Duterte sebagai bentuk intimidasi politik.
Prahara Politik di Balik Layar
Kasus ini mempertegas keretakan mendalam dalam peta politik Filipina. Dela Rosa menolak mentah-mentah yurisdiksi ICC dan menegaskan hanya akan tunduk pada pengadilan domestik.
"Kita tidak boleh membiarkan warga Filipina lainnya dibawa ke Den Haag, setelah Presiden Duterte. Ini tidak bisa diterima," ujar dela Rosa dalam sebuah pesan video, merujuk pada Rodrigo Duterte yang telah lebih dulu ditahan di markas ICC, Belanda.
Konflik ini juga dipandang sebagai puncak perseteruan antara keluarga Marcos dan loyalis Duterte.
Wakil Presiden Sara Duterte, yang baru-baru ini dimakzulkan oleh DPR, menuduh pemerintahan Marcos melakukan "penculikan" politik melalui tangan pengadilan asing.
Situasi di Manila tetap dinamis. Sementara dela Rosa bersikeras bertahan di dalam gedung Senat, publik Filipina kini menantikan apakah hukum internasional dapat menembus benteng proteksi politik yang dibangun oleh para elit legislatif di negara tersebut.










