TVRINews – Riyadh
Eskalasi Konflik Yaman Memanas, Donald Trump Pertimbangkan Intervensi Militer Amerika Serikat
Serangan rudal mematikan dilancarkan kelompok pemberontak Houthi Yaman menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi Minggu 11 Oktober 2026. Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi mengonfirmasi sedikitnya 12 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya luka-luka dalam insiden yang tercatat sebagai serangan paling berdarah di kawasan tersebut sejak meluasnya bentrokan kawasan.
Ledakan hebat dilaporkan merusak kompleks terminal 3 dan 4 yang melayani penerbangan domestik. Seluruh aktivitas penerbangan di bandara utama tersebut dihentikan seketika seiring dengan evakuasi korban yang terus berlangsung.
"Saya berada di gerbang 403 terminal domestik saat ledakan terjadi di gerbang 401. Saya melihat para korban terluka di depan mata saya sendiri, dan semua orang berlari menyelamatkan diri," ujar seorang saksi mata sebagaimana dilaporkan Agence France-Presse (AFP).
Seorang pejabat pemerintah Arab Saudi menyampaikan bahwa korban tewas terdiri atas empat warga negara Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga negara Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Respons Amerika Serikat dan Eskalasi Kawasan
Serangan ini memicu perhatian serius internasional. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengindikasikan kemungkinan bergabungnya militer AS dalam operasi serangan udara bersama Arab Saudi untuk menumpas militer Houthi yang disokong Iran.
"Kami sedang mengevaluasinya. Kami baru saja menerima laporan mengenai serangan terbaru ini, dan keputusan akan diambil dalam waktu singkat," ujar Trump saat memberikan keterangan pers.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengutuk keras insiden tersebut dan menyebut aksi penyerangan militer terhadap fasilitas sipil sebagai tindakan yang "sangat tercela dan harus segera dihentikan."
Di saat yang sama, koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan bahwa sebuah proyektil juga jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam, yang selama ini menjadi jalur alternatif utama bagi lalu lintas udara nasional.
Adu Klaim Strategis di Selat Bab al-Mandab
Serangan ke ibu kota Arab Saudi ini bertepatan dengan pertempuran sengit yang berkecamuk di Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran internasional yang krusial bagi perdagangan global.
Pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman bentukan PBB mengklaim berhasil merebut kembali wilayah pesisir dan Pulau Perim (Mayyun) dari penguasaan Houthi.
Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman, Mohammed al-Jaber, mengonfirmasi keberhasilan operasi tersebut. "Selat Bab al-Mandab telah sepenuhnya dibersihkan dari sisa-sisa milisi teroris Houthi," tegas Al-Jaber.
Namun, juru bicara kelompok Houthi membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya merontokkan posisi musuh dengan artileri berat serta rudal balistik. Menurut klaim Houthi, serangan balasan mereka berhasil menghancurkan lebih dari 22 kendaraan tempur lapis baja serta menewaskan puluhan personel lawan di wilayah Aden.
Mewakili tim independen di lapangan, juru bicara militer Yaman, Waddah al-Dabish, menglarifikasi bahwa pertempuran masih berlangsung sengit dan baru separuh wilayah strategis yang berhasil diamankan dari garis pertahanan Houthi.
Ancaman Krisis Kemanusiaan Baru
Laporan situasi di lapangan mendapat sorotan tajam dalam sidang Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman, Hans Grundberg, di hadapan Dewan Keamanan PBB di New York. Grundberg memperingatkan bahwa Yaman salah satu negara termiskin di dunia kini kembali terseret ke dalam perang berskala penuh.
PBB menegaskan bahwa apabila eskalasi militer lintas batas ini tidak segera diredam melalui jalur diplomasi, warga sipil terutama perempuan dan anak-anakakan kembali menjadi pihak yang menanggung dampak terberat dari krisis kemanusiaan yang berkepanjangan ini.










