TVRINews – Beijing
Hubungan bilateral Rusia-Tiongkok dilaporkan mencapai level tertinggi di tengah bayang-bayang tekanan sanksi Barat dan transisi politik Amerika Serikat.
Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing pada Selasa 19 Mei 2026 malam memulai kunjungan kenegaraan resminya.
Kunjungan ini berlangsung hanya empat hari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyelesaikan agendanya di Tiongkok. Langkah diplomatik ini kian menegaskan dinamika poros geopolitik baru di tengah ketegangan global yang terus berlanjut.
Kedatangan Putin di bandara Beijing disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi.
Prosesi penyambutan dikawal oleh pasukan kehormatan serta barisan pemuda Tiongkok yang mengibarkan bendera nasional kedua negara di atas papan landasan (tarmac).
Bagi Putin, ini merupakan kunjungan ke-25 ke Tiongkok. Frekuensi ini mencerminkan kedekatan personal yang intens antara dirinya dan Pemimpin Tiongkok, Xi Jinping.
Kedua kepala negara tercatat telah bertemu lebih dari 40 kali jumlah yang jauh melampaui frekuensi pertemuan Xi dengan pemimpin Barat mana pun.
Sinyal Posisi Global Beijing
Kunjungan yang berdekatan antara dua pemimpin dunia ini dinilai sebagai penegasan atas posisi tawar Tiongkok dalam diplomasi global.
"Menjadi tuan rumah bagi dua pemimpin paling kuat di dunia dalam hitungan hari menunjukkan tumbuhnya kepercayaan diri Tiongkok atas posisi dan kedudukannya di panggung internasional," ujar William Yang, analis senior di International Crisis Group.
Yang menambahkan bahwa langkah ini kemungkinan menjadi pesan dari Xi Jinping kepada Washington.
"Xi kemungkinan ingin mengingatkan Trump bahwa Beijing memiliki hubungan solid dan kuat lainnya yang dapat diandalkan, sehingga Washington tidak dapat dengan mudah mengisolasi atau merugikan Beijing."
Kedekatan kedua pemimpin ini sebelumnya juga terlihat saat Xi menjamu Putin pada Mei 2024 di komparimen Zhongnanhai. Saat itu, keduanya melepaskan dasi dalam diskusi santai sembari menikmati teh di area terbuka.
Area kediaman yang sama juga sempat ditunjukkan Xi kepada Trump pekan lalu, seraya menyebut Putin sebagai salah satu dari sedikit pemimpin asing yang pernah diundang ke dalam kompleks tersebut.
Ketahanan Ekonomi dan Ketergantungan Energi
Kunjungan kenegaraan ini bertepatan dengan momentum penting, menandai 30 tahun penandatanganan perjanjian kemitraan strategis serta 25 tahun "perjanjian kerja sama bertetangga yang baik dan ramah" antara Beijing dan Moskow.
Dalam pidato video yang dirilis menjelang kunjungannya, Putin menyatakan bahwa hubungan Tiongkok-Rusia telah mencapai "tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya." Ia menyoroti lonjakan perdagangan bilateral yang kini hampir sepenuhnya menggunakan mata uang rubel dan yuan, sebagai langkah konkret untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS guna meminimalisasi dampak sanksi Barat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menegaskan pandangan serupa pada hari Selasa 19 Mei.
"Persahabatan antara Tiongkok dan Rusia akan semakin diperdalam dan berakar lebih kuat di hati masyarakat melalui panduan strategis dari Xi dan Putin."
Sejak konflik di Ukraina pecah, Tiongkok memilih untuk tidak mematuhi sanksi sepihak Barat terhadap Rusia. Data dari Centre for Research on Energy and Clean Air menunjukkan Beijing telah membeli lebih dari $367 miliar bahan bakar fosil dari Rusia.
Agenda Strategis dan Proyek Pipa Gas
Kremlin melaporkan bahwa dalam pertemuan ini, kedua negara diproyeksikan menandatangani sekitar 40 dokumen kerja sama serta merilis pernyataan bersama sepanjang 47 halaman mengenai penguatan kemitraan.
Putin dan Xi juga dijadwalkan mengadopsi deklarasi bersama tentang pembentukan tatanan dunia multipolar.
Perhatian para pengamat ekonomi adalah kelanjutan proyek Power of Siberia 2. Proyek pipa gas alam sepanjang 2.600 kilometer melintasi Mongolia ini direncanakan menambah kapasitas aliran gas Rusia ke Tiongkok hingga 50 miliar meter kubik.
Bagi Moskow, proyek ini krusial untuk menggantikan pasar ekspor Eropa yang hilang. Sementara bagi Beijing, pasokan energi darat ini dapat mengurangi risiko ketergantungan pada Selat Hormuz.
Meskipun kemitraan ini terlihat solid, para analis menilai hubungan kedua negara kian asimetris. Masalah ekonomi domestik serta lambatnya kemajuan militer Rusia di Ukraina secara perlahan meningkatkan ketergantungan Moskow terhadap kekuatan ekonomi Beijing.










