TVRINews – Kuwait
Menlu AS Tegaskan Komitmen Keamanan Bagi Sekutu Teluk di Tengah Negosiasi Iran
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menegaskan bahwa Washington tidak akan mengambil langkah apa pun yang dapat mengancam stabilitas keamanan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.
Pernyataan ini disampaikan Rubio di tengah berlangsungnya proses negosiasi perdamaian permanen antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam kunjungan hari keduanya di Kuwait pada Rabu 24 Juni 2026, Rubio menekankan bahwa posisi Amerika Serikat sepenuhnya selaras dengan mitra-mitra strategisnya di Teluk. Langkah diplomatik ini diambil sebagai upaya nyata untuk meredam kekhawatiran negara-negara kawasan pasca-konflik yang sempat memanas.
“Kami tidak akan melakukan apa pun yang merusak keamanan sekutu-sekutu lama kami di kawasan ini,” ujar Rubio dalam keterangan resminya.
Sebagai bentuk transparansi, Rubio dijadwalkan menghadiri pertemuan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Bahrain hari ini kamis 25 Juni 2026.
Ia memastikan bahwa Washington akan melibatkan negara-negara Teluk dalam setiap pengambilan keputusan krusial yang berkaitan dengan negosiasi dengan Iran.
Penolakan Terhadap Hambatan di Selat Hormuz
Selain isu keamanan, Rubio kembali menegaskan sikap tegas pemerintahan Trump terkait kebebasan navigasi maritim.
Ia menyatakan oposisi keras Amerika Serikat terhadap tuntutan Iran untuk memberlakukan pungutan tol bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebuah posisi yang juga didukung sepenuhnya oleh negara-negara Teluk.
Menurut informasi dari Departemen Luar Negeri AS, negosiator teknis dari kedua negara dijadwalkan untuk melanjutkan perundingan pada akhir bulan ini, yang kemungkinan besar akan kembali dilaksanakan di Swiss.
Simbol Pemulihan Hubungan
Kunjungan Rubio ke Kuwait juga menjadi momen simbolis bagi hubungan bilateral kedua negara. Sebelum melakukan pertemuan dengan Emir Kuwait, Mishal Al-Ahmad Al-Sabah, Rubio menghadiri upacara pengibaran bendera di Kedutaan Besar AS di Kuwait City. Upacara ini menandai dimulainya kembali operasional kedutaan yang sempat ditangguhkan sejak Maret lalu akibat eskalasi serangan dari Iran.
"Bendera Amerika, simbol kebebasan, persatuan, dan kemerdekaan, kini kembali berkibar dengan bangga di atas Kuwait City," tulis Rubio melalui platform X (sebelumnya Twitter).
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menambahkan bahwa layanan darurat bagi warga negara Amerika di Kuwait akan segera dipulihkan, sementara layanan lainnya akan dibuka secara bertahap.
Diplomasi Pasca-Konflik
Perjalanan regional Rubio ini merupakan kunjungan pertama pejabat tinggi AS sejak tercapainya kesepakatan gencatan senjata minggu lalu untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sebelum tiba di Kuwait, Rubio telah melakukan pertemuan dengan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohamed bin Zayed, di Abu Dhabi.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut, Rubio memberikan apresiasi tinggi atas ketahanan UEA. “Rubio berterima kasih atas kepemimpinan UEA dan menegaskan kembali komitmen AS terhadap keamanan Emirates,” ujar Pigott.
Situasi keamanan di kawasan Teluk menjadi sorotan utama setelah konflik yang pecah menyusul serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Selama periode tersebut, negara-negara GCC mengalami serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak yang menyebabkan jatuhnya puluhan korban jiwa serta kerusakan serius pada infrastruktur energi dan transportasi.










