TVRINews – Washington
Gedung Putih minta dana $87,6 miliar di tengah penolakan Kongres terkait batasan wewenang perang
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengajukan usulan anggaran tambahan senilai $87,6 miliar kepada Kongres. Dana tersebut ditujukan untuk mendukung berbagai prioritas nasional, termasuk membiayai operasi militer AS dalam perang melawan Iran.
Proposal yang diajukan oleh Kantor Manajemen dan Anggaran (OMB) ini muncul hanya berselang satu hari (Selasa 24 Juni 2026) setelah Kongres meloloskan resolusi yang menuntut Trump membatasi wewenang militernya dalam konflik tersebut.
Direktur OMB, Russell Vought, melalui surat kepada Ketua DPR Mike Johnson, menekankan urgensi pengesahan dana tersebut. "Saya mendesak Kongres untuk mengambil tindakan atas permintaan yang penting dan mendesak ini sesegera mungkin," tulis Vought.
Sebagian besar dari alokasi tersebut, yakni sekitar $67 miliar, diusulkan bagi Departemen Pertahanan untuk menutupi kebutuhan personel militer, kesiapan tempur, serta biaya operasional guna mengisi kembali cadangan amunisi. Angka ini secara signifikan lebih rendah dibandingkan usulan tambahan $200 miliar yang sempat diajukan Pentagon awal tahun ini.
Gejolak Internal di Partai Republik
Usulan ini menghadapi tantangan politik yang berat. Sebelumnya, empat senator dari Partai Republik Lisa Murkowski, Susan Collins, Bill Cassidy, dan Rand Paul—memilih berseberangan dengan garis partai dan mendukung resolusi Demokrat untuk mengekang wewenang perang Presiden.
Perpecahan di internal Partai Republik mencerminkan keresahan publik yang luas terhadap konflik Iran. Survei terbaru oleh Ipsos dan Reuters menunjukkan hanya 24 persen responden yang meyakini bahwa perang tersebut sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.
Dalam pertemuan tertutup dengan senator Republik, ketegangan sempat memuncak ketika Trump mengkritik mereka yang mendukung resolusi tersebut. Senator Bill Cassidy secara terbuka menantang sikap Presiden.
"Saya berdiri dan berkata, 'Anda belum memberitahu rakyat Amerika apa yang sebenarnya terjadi'," ujar Cassidy kepada wartawan usai pertemuan.
"Ini seharusnya berlangsung empat minggu, namun sudah berjalan empat bulan. Tujuan awal kita belum tercapai." Cassidy pun berkomitmen untuk terus mendukung pembatasan wewenang perang hingga Kongres mendapatkan laporan lengkap mengenai strategi militer AS.
Oposisi Demokrat dan Pemanis Paket Anggaran
Pihak Demokrat menyatakan sikap tegas untuk menentang pengajuan tersebut. Senator Patty Murray dari Washington menilai proposal itu sebagai upaya untuk mengamankan anggaran tambahan bagi prioritas Pentagon yang tidak relevan.
"Saya tidak akan memberikan persetujuan tanpa syarat untuk puluhan miliar dolar lagi bagi perang pilihan yang membawa bencana ini," tegas Murray dalam pernyataannya.
Di sisi lain, anggota DPR Tom Cole dan Ken Calvert memberikan dukungan, menyebut pendanaan tersebut sebagai investasi yang diperlukan untuk menjaga kekuatan pertahanan nasional.
Selain sektor pertahanan, paket anggaran ini menyertakan insentif untuk menarik dukungan, seperti $11,1 miliar bantuan pertanian, $1,4 miliar untuk penanganan wabah Ebola di Afrika, serta alokasi dana infrastruktur untuk proyek pembangunan di New York dan Washington, DC.
Keputusan mengenai anggaran ini akan menjadi ujian krusial bagi legitimasi kebijakan luar negeri Trump, mengingat waktu yang tersisa sebelum pemilihan paruh waktu pada November mendatang semakin sempit.










