TVRINews – Washington DC
Gencatan Senjata dan Pembukaan Selat Hormuz Resmi Dimulai
Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menandatangani nota kesepahaman bersejarah dengan Republik Islam Iran pada Rabu 17 Juni 2026 waktu setempat. Langkah diplomatik ini menandai babak baru dalam hubungan kedua negara, dengan fokus pada penghentian total operasi militer dan stabilisasi ekonomi kawasan.
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman bertajuk "Islamabad Memorandum of Understanding" tersebut mencakup 14 poin krusial. Salah satu poin utama adalah komitmen kedua belah pihak untuk menghentikan seluruh aktivitas militer di semua lini, termasuk di Lebanon, serta menjamin penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa dokumen tersebut akan ditandatangani secara digital oleh pemimpin kedua negara. Ia menegaskan bahwa kesepakatan ini memiliki bobot politis dan konsekuensi yang signifikan.
"Setelah nota kesepahaman ini sampai ke tangan presiden kedua negara untuk ditandatangani, setiap bentuk pelanggaran akan memikul konsekuensi yang lebih berat," ujar Baghaei sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya yang dikutip AFP Kamis 18 Juni 2026.
Pemulihan Jalur Maritim dan Sanksi Ekonomi
Salah satu dampak paling krusial dari kesepakatan ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Sebagai salah satu titik jalur perdagangan minyak paling vital di dunia, Selat Hormuz kini dipersiapkan untuk kembali melayani lalu lintas kapal komersial.
Dalam ketentuan nota tersebut, Amerika Serikat sepakat untuk segera mencabut blokade angkatan laut secara bertahap dalam kurun waktu 30 hari.
Sejalan dengan itu, Iran berkomitmen untuk memastikan keamanan jalur perdagangan dan melakukan operasi pembersihan ranjau laut. Selama 60 hari ke depan, Iran juga tidak akan mengenakan biaya bagi kapal komersial yang melintas antara Teluk Persia dan Laut Oman.
Di sektor ekonomi, Washington telah memberikan arahan kepada Departemen Keuangan AS untuk menerbitkan pengecualian sanksi segera terhadap minyak mentah, produk perminyakan, serta layanan perbankan dan asuransi Iran. Amerika Serikat juga berencana memfasilitasi pembentukan dana pembangunan ekonomi untuk Iran senilai minimal $300 miliar.
Masa Depan Program Nuklir
Meski kesepakatan ini mencakup banyak aspek, isu sensitif terkait program nuklir Iran disepakati untuk dibahas lebih lanjut dalam jendela negosiasi 60 hari. Iran menegaskan kembali komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Kedua pihak setuju untuk menangani penumpukan material yang diperkaya melalui mekanisme down-blending di lokasi, di bawah pengawasan ketat Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Selama periode negosiasi berlangsung, Iran setuju untuk menjaga status quo program nuklir mereka, sementara Amerika Serikat sepakat untuk tidak menjatuhkan sanksi baru atau menambah pengerahan militer di kawasan tersebut.
Kesepakatan ini kini menjadi fondasi bagi pembicaraan teknis yang lebih mendalam. Sebuah mekanisme eksekutif telah dibentuk untuk memantau kepatuhan kedua belah pihak. Jika diperlukan, periode negosiasi selama 60 hari tersebut dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama, memberikan ruang bagi diplomasi untuk menyelesaikan isu-isu yang selama ini menjadi titik ketegangan utama antara Washington dan Teheran.










