TVRINews - Moskow
Moskow disebut menyiapkan eskalasi serangan besar-besaran menyusul macetnya jalur perundingan damai.
Ketegangan di garis depan timur Ukraina kembali memuncak menyusul klaim Kementerian Pertahanan Rusia. Pasukan "Selatan" Rusia diklaim berhasil menembus lapisan pertahanan pertama di kawasan benteng pertahanan Sloviansk-Kramatorsk Kamis 27 Agustus 2026 waktu setempat.
Klaim tersebut diumumkan melalui saluran resmi Telegram kementerian, bertepatan dengan kunjungan Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia, Jenderal Valery Gerasimov. Ia hadir untuk memeriksa pos komando dan mengevaluasi hasil operasi militer yang dipimpin oleh Kolonel Jenderal Sergei Medvedev.
Dalam pernyataan tertulisnya, kementerian menyebutkan bahwa unit-unit militer kini tengah mendesak maju di sepanjangfront sepanjang seratus enam puluh kilometer.
"Pasukan penyerang terus memperluas kendali teritorial di beberapa poros secara bersamaan," tulis pernyataan resmi tersebut, sebagaimana dilansir dari laporan yang dihimpun secara independen.
Kendati demikian, klaim sepihak terkait kemajuan teritorial dan kondisi di medan laga tersebut hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak luar.
Di tengah situasi pertempuran yang membara, eskalasi konflik dikabarkan kian mendekati titik krusial. Berdasarkan laporan Bloomberg yang mengutip tiga sumber dekat Kremlin, Moskow tengah mempertimbangkan perluasan skala serangan konvensional, menyusul kebuntuan total dalam jalur negosiasi damai.
Moskow dilaporkan semakin memandang serangan Ukraina sebagai bentuk agresi langsung dari negara-negara anggota NATO. Pandangan ini didasari oleh masifnya pasokan persenjataan serta dukungan intelijen yang diberikan aliansi barat tersebut kepada Kyiv.
Presiden Vladimir Putin sebelumnya telah memberikan sinyal keras melalui wawancara dengan stasiun televisi nasional. Ia memperingatkan bahwa pihak Ukraina telah memicu respons balasan yang menyasar sektor-sektor paling sensitif.
(Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia (tidak terlihat) di Moskow pada 26 Agustus 2026. [Foto: AFP]
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, turut menegaskan sikap resmi pemerintahannya. "Ukraina berupaya menghantam infrastruktur ekonomi dan perdagangan kami, yang tentu memicu respons keras dari pihak kami," ujar Peskov, meski ia menambahkan bahwa Rusia pada prinsipnya tidak memerlukan eskalasi militer lanjutan karena merasa posisi pasukan di lapangan terus mengalami kemajuan.
Sementara itu, analis geopolitik menilai ancaman yang lebih besar masih berada dalam koridor konvensional. Direktur Carnegie Russia Eurasia Center, Alexander Gabuev, menyatakan kepada Bloomberg Internasional bahwa potensi penggunaan senjata nuklir taktis saat ini masih berada di tingkat risiko yang sangat rendah, mengingat efektivitas militer yang terbatas serta beban politik yang terlalu tinggi.
Di sisi lain, dampak konflik kian meluas hingga menyasar sektor komersial domestik di dalam wilayah Rusia. Perusahaan ritel daring terkemuka Rusia, Ozon, melaporkan bahwa dua fasilitas logistik mereka di Orenburg dan Ufa menjadi sasaran serangan pesawat nirawak atau drone dalam rangkaian insiden malam hari.
Pihak manajemen Ozon memastikan seluruh karyawan berhasil dievakuasi dengan selamat tanpa ada korban jiwa. Fasilitas logistik di Orenburg dilaporkan telah kembali beroperasi normal, sementara fasilitas di Ufa mengalami kerusakan ringan dan masih menjalani inspeksi keselamatan secara intensif.
Serangan terhadap infrastruktur logistik e-dagang seperti Ozon dan Wildberries dalam beberapa pekan terakhir mencerminkan pola kampanye strategis baru. Kampanye tersebut dirancang untuk menargetkan jaringan pendukung ekonomi yang menopang jalannya operasi militer di garis depan.










