TVRINews – Nepal
Operasi pencarian besar-besaran di perbatasan Nepal-Tibet diperluas menyusul lonjakan korban meninggal dan ratusan orang yang masih belum ditemukan.
Tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk mencari para korban selamat setelah banjir bandang dahsyat melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet Rabu 26 Agustus 2026. Bencana alam tersebut menghancurkan puluhan rumah, merendam akses jalan utama, serta menyapu bersih sejumlah jembatan penghubung di wilayah terdampak.
Berdasarkan data terbaru kamis 27 Agustus 2026, lebih dari 900 orang dilaporkan hilang dan sedikitnya 332 jiwa dikonfirmasi meninggal dunia di wilayah Nepal. Sementara itu, otoritas di Tibet mencatat sedikitnya 558 orang hilang serta tiga korban jiwa, meski hingga kini belum dapat dipastikan apakah data korban tersebut saling tumpang tindih dengan laporan dari pihak Nepal.
Bencana ini turut berdampak luas pada warga negara asing yang sedang berada di lokasi kejadian. Ratusan wisatawan asing dari berbagai negara dilaporkan hilang di kedua sisi perbatasan.
Pemerintah Nepal merinci bahwa korban hilang tersebut meliputi 178 wisatawan asal India, 127 warga lokal Nepal, 65 warga negara Amerika Serikat, serta 33 warga Britania Raya. Puluhan personel militer dan kepolisian setempat juga dikabarkan belum ditemukan di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung.
Situasi kemanusiaan yang pelik dirasakan oleh para keluarga korban yang menunggu kepastian. Dua saudari asal Amerika Serikat hidup dalam kecemasan mendalam menantikan kabar orang tua mereka yang sedang melakukan perjalanan ziarah dari Texas menuju Tibet.
"Kami sangat menyayangi mereka dan ingin mereka segera pulang ke rumah," ujar kedua saudari tersebut kepada BBC News, menggambarkan kepedihan penantian di tengah ketidakpastian.
Pihak US Geological Survey (Survei Geologi AS) menganalisis bahwa bencana ini dipicu oleh fenomena keruntuhan gletser yang disusul oleh aliran debris atau material longsoran berat. Analisis tersebut juga memicu kekhawatiran serius mengenai potensi banjir susulan, mengingat material longsoran masih menyumbat alur sungai-sungai utama di kawasan perbatasan.
Hingga berita ini diturunkan, operasi SAR gabungan terus dikerahkan secara maksimal untuk menembus daerah isolasi dan mencari para korban yang masih terjebak.










