TVRINews – Kathmadu/Lhasa Nepal
Gempa bumi memicu longsoran salju masif yang meluluhlantakkan wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, menyebabkan lebih dari 160 orang tewas, ratusan lainnya hilang, serta memutus akses infrastruktur vital secara total.
Operasi pencarian besar-besaran saat ini tengah digencarkan di kedua sisi perbatasan Nepal dan Tibet, menyusul bencana banjir bandang serta tanah longsor luar biasa yang menghanyutkan pemukiman warga dan melumpuhkan jalur transportasi utama. Otoritas setempat memperkirakan jumlah korban jiwa akan terus merangkak naik secara signifikan seiring masuknya laporan dari daerah-daerah yang terisolasi.
Bencana alam tersebut menerjang kawasan Rasuwa, sebelah utara ibu kota Nepal, Kathmandu, pada Rabu 26 Agustus 2026 pagi waktu setempat. Berdasarkan informasi investigatif awal dari otoritas kebencanaan, musibah ini dipicu oleh gempa bumi berkekuatan signifikan yang mengguncang kawasan pegunungan.
Guncangan tersebut memicu longsoran salju masif yang mencair dan tumpah secara drastis ke dalam aliran Sungai Bhote Koshi, menciptakan gelombang destruktif berkecepatan tinggi.
Pemerintah Nepal mengonfirmasi bahwa tim evakuasi sedang bekerja keras melacak keberadaan 579 wisatawan dari berbagai belahan dunia, termasuk 466 warga negara asing dari 28 negara berbeda. Data kepolisian merinci bahwa dari total turis yang belum diketahui nasibnya, 113 merupakan warga lokal Nepal, disusul oleh 54 warga negara Amerika Serikat, serta 33 warga Britania Raya.
Sejumlah agen perjalanan internasional dan lokal, termasuk Alpine Eco Trek yang mengelola ekspedisi lintas batas, mengonfirmasi bahwa rombongan mereka turut terdampak langsung. Manajemen operator tur melaporkan belasan warga negara Inggris dari berbagai rentang usia, mulai dari 13 hingga 65 tahun, masuk dalam daftar orang hilang.
"Kami telah kehilangan kontak dengan seluruh staf dan truk logistik di lapangan. Tidak ada sinyal komunikasi sama sekali. Sepengetahuan saya, tidak ada peringatan dini sebelumnya. Longsor memang kerap terjadi di musim hujan, namun skala bencana kali ini jauh melampaui perkiraan." kata Yee Liang, Pengusaha Logistik di Kathmandu kepada BBC News.
Dampak destruktif juga terekam dalam sejumlah video amatir terverifikasi yang memperlihatkan detik-detik menegangkan ketika jembatan utama di kawasan Trishuli Bazaar, Distrik Nuwakot, Provinsi Bagmati sekitar 25 kilometer barat laut Kathmandu hancur seketika diterjang volume air yang membengkak luar biasa. Bangunan bertingkat di sepanjang bantaran sungai roboh dalam hitungan detik akibat terjangan material sedimen padat yang terbawa arus deras.

(Tim penyelamat menggunakan alat berat untuk membawa korban banjir bandang ke tempat yang aman di distrik Nuwakot, Nepal, Rabu, 26 Agustus 2026. [Foto AP/Niranjan Shrestha])
Kerusakan Infrastruktur dan Respons Darurat Regional
Kementerian Dalam Negeri Nepal mengeluarkan peringatan darurat tingkat tinggi bagi warga yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi dan Trishuli. Sejumlah proyek infrastruktur vital, termasuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Trishuli, dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat terjangan material banjir.
Di sisi perbatasan Tibet, media pemerintah Tiongkok melaporkan tiga korban tewas dan 265 orang hilang. Upaya penyelamatan di sisi Tiongkok menghadapi kendala geografis dan cuaca ekstrem. Guan Daoxuan, seorang warga asal Provinsi Sichuan yang kehilangan kontak dengan istrinya seorang pekerja konstruksi jalan dan jembatan pemerintah Tiongkok di Tibet mengungkapkan bahwa helikopter penyelamat gagal mendekati lokasi akibat hembusan angin kencang yang membahayakan penerbangan.
Perdana Menteri Nepal, Belendra Shah, langsung menggelar rapat kabinet darurat untuk mengoordinasikan langkah-langkah tanggap darurat. Pihak kepolisian dan militer mengerahkan personel khusus guna mengevakuasi korban di wilayah terisolasi seperti Desa Mailung, Timure, Syabrubesi, dan Betrawati. Sementara itu, Menteri Luar Negeri
Shishir Khanal menyampaikan di hadapan parlemen bahwa puluhan personel aparat keamanan dari unsur kepolisian dan militer turut dilaporkan hilang dalam menjalankan misi penyelamatan.
Sebagai bentuk empati regional, Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyampaikan dukungannya melalui platform media sosial X:
"Pemerintah dan rakyat India berdiri dalam solidaritas penuh bersama saudara-saudari kita di Nepal pada masa-masa penuh ujian ini." kata Narendra Modi, Perdana Menteri India (via X)
Otoritas kebencanaan mengingatkan bahwa wilayah Rasuwa sebelumnya pernah mengalami bencana serupa tahun lalu akibat pecahnya bendungan glasial di sisi perbatasan Tiongkok.
Pemerintah kembali mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstrem di tengah ketidakpastian cuaca dan potensi gempa susulan di kawasan Himalaya.










