TVRINews, Atlanta
Ketegangan Ukraina dan Iran Pecah, Pertemuan G20 Tanpa Foto Bersama
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, membuka pertemuan tingkat tinggi G20 di Atlanta dengan menyerukan kerja sama global untuk mengatasi krisis geopolitik yang semakin mendalam.
Konferensi yang berlangsung dua hari ini diwarnai oleh ketegangan tajam antarnegara anggota akibat eskalasi perang di Ukraina serta konflik yang melibatkan Iran.
Perpecahan di tubuh forum ekonomi utama dunia tersebut terlihat jelas bahkan sebelum rangkaian acara resmi dimulai pada Jumat 30 Oktober 2026 pagi waktu setempat. Sumber diplomatik mengungkapkan bahwa sesi foto bersama tradisional terpaksa dibatalkan setelah sejumlah pejabat Eropa menyatakan keberatan untuk berdiri satu bingkai dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.
Seorang pejabat tinggi Amerika Serikat mengonfirmasi pembatalan tersebut. Menurutnya, langkah ini diambil untuk menghindari kontroversi agar sesi seremonial tidak berubah menjadi gangguan diplomasi yang mengalihkan fokus utama pertemuan.
Penolakan serupa dari delegasi Eropa terhadap kehadiran pejabat Rusia juga sempat terjadi pada rangkaian pertemuan G20 sebelumnya tahun ini, menyusul invasi Moskow ke Ukraina pada 2022.
Pertemuan di Atlanta, Georgia, yang diselenggarakan menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat ini juga dibayangi oleh lonjakan harga energi global. Kondisi ini dipicu oleh dampak konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, sekaligus menjadi persiapan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin G20 pada Desember mendatang di resor Doral milik Presiden Donald Trump di Miami.
Meskipun Washington berupaya mengarahkan agenda pembahasan pada pertumbuhan ekonomi, ketimpangan perdagangan, serta stabilitas rantai pasok energi dan mineral kritis, para pengamat menilai sedikit sekali terobosan berarti yang dapat dicapai.
Berdasarkan informasi dari kalangan diplomatik, pertemuan pekan ini kemungkinan besar tidak akan menghasilkan deklarasi bersama, melainkan hanya ringkasan ketua (chair summary) yang disusun oleh pihak Amerika Serikat.
Dalam pidato pembukaannya pada sesi pleno, Marco Rubio menegaskan bahwa dunia kini berada pada persimpangan krusial dalam menghadapi krisis ekonomi dan geopolitik yang saling terkait. Ia mendesak negara-negara anggota G20 termasuk Tiongkok, India, Rusia, Jepang, Jerman, dan Prancis untuk bersatu menghadapi ancaman terhadap pasokan energi, pangan, serta jaminan kebebasan navigasi internasional.
Penolakan Normalisasi Hubungan dengan Rusia
Kehadiran Sergei Lavrov yang masih berada di bawah sanksi internasional memberikan tekanan tersendiri bagi jalannya forum. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menegaskan kepada media setempat menjelang pertemuan bahwa tidak ada bentuk normalisasi hubungan dengan Rusia di tengah situasi saat ini.
"Kami harus saling bertukar perbedaan pendapat di meja perundingan ini, namun kami tidak boleh mengirimkan sinyal visual yang menyesatkan," ujar Wadephul, merujuk pada penolakan delegasi Eropa terhadap sesi foto bersama. Ia juga mendesak Moskow agar segera menerima tawaran gencatan senjata di Ukraina yang dimulai dari kawasan Laut Hitam.
Pertemuan tatap muka antara Marco Rubio dan Sergei Lavrov pun menjadi sorotan utama. Pemerintah Amerika Serikat berupaya menempuh jalur diplomasi terkait konflik Ukraina sambil mengharapkan kerja sama Moskow untuk menekan harga bahan bakar domestik yang menjadi isu sensitif menjelang pemilu paruh waktu.
Kehadiran delegasi Rusia ini juga mendahului agenda perundingan baru antara Moskow, Kyiv, dan Washington yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Di sisi lain, kebijakan luar negeri Washington turut diwarnai oleh upaya menjaga kebebasan jalur pelayaran internasional. Seorang pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyoroti pentingnya komitmen bersama dalam menjaga jalur perdagangan maritim tetap terbuka tanpa adanya ancaman atau pungutan liar.
Harga energi global diketahui melonjak tajam setelah rangkaian serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari lalu memicu penutupan Selat Hormuz oleh Teheran. Wilayah perairan tersebut memegang peranan vital bagi jalur pasokan minyak mentah, gas alam, dan pupuk dunia.
Alisha Chhangani dari lembaga kajian Atlantic Council memperkirakan bahwa Washington akan mendesak tercapainya kesepakatan mengenai definisi kebebasan navigasi, baik di dalam maupun di luar kawasan Selat Hormuz.
Kendati demikian, langkah tersebut berpotensi menghadapi hambatan dari Tiongkok, yang sebelumnya pernah menyampaikan penolakan terhadap narasi kebebasan navigasi dalam pertemuan tingkat menteri keuangan. Dalam forum di Atlanta kali ini, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi berhalangan hadir dan hanya mengutus wakilnya.










