TVRINews – Jakarta
Lonjakan harga minyak mendekati US$120 per barel memperketat tekanan inflasi global, sementara eskalasi geopolitik di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasokan internasional.
Pasar energi internasional kembali menghadapi guncangan berat menyusul lonjakan harga minyak dunia yang bergerak mendekati level US$120 per barel. Eskalasi konflik militer yang kian meluas serta gangguan nyata pada jalur distribusi utama memicu respons ketat dari para pelaku pasar global.
Berdasarkan data perdagangan sabtu 31 Oktober 2026, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat mencatatkan penguatan sebesar US2,12 atau 2,08 persen ke level US104,12 per barel. Jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah dengan rata-rata kurs tengah US$1 senilai Rp18.133, nilai tersebut setara dengan kisaran Rp1.888.016 per barel. Sementara itu, dalam basis mingguan, harga minyak WTI menanjak 0,82 persen sekaligus memperpanjang tren penguatan selama empat pekan berturut-turut.
Tekanan harga energi yang masif ini turut mengulang pola kebijakan moneter ketat di berbagai negara, sebagaimana Bank of Canada sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat poin guna meredam laju inflasi akibat mahalnya harga energi dunia.
Kekhawatiran terhadap kelangsungan rantai pasok global semakin memuncak setelah sebuah kapal tanker di perairan strategis Selat Hormuz dilaporkan mengalami serangan perangkat peledak yang dipasang dari kapal kecil. Berdasarkan informasi resmi, Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi insiden keamanan maritim tersebut pada hari Jumat.
Menanggapi situasi yang memanas di jalur perdagangan minyak utama dunia tersebut, Senior Vice President of Trading BOK Financial, Dennis Kissler, menegaskan bahwa para pelaku pasar kini memusatkan perhatian penuh pada kepastian arus pengiriman serta potensi perluasan konflik bersenjata.
"Pelaku pasar akan terus mencermati arus pengiriman minyak dari Timur Tengah serta potensi eskalasi konflik oleh pasukan AS dan sekutunya," ujar Dennis Kissler.
Para pengamat pasar menilai bahwa volatilitas tinggi di sektor energi akan terus berlanjut seiring tingginya ketidakpastian geopolitik global yang membayangi stabilitas ekonomi internasional.










