TVRINews – Kinshasa
Otoritas kesehatan Republik Demokratik Kongo mengisolasi ratusan penumpang di dekat Kinshasa setelah satu kasus kematian dengan gejala Ebola terdeteksi, di tengah lonjakan wabah tercepat dalam sejarah yang kian mengkhawatirkan.
Otoritas kesehatan Republik Demokratik Kongo mengambil langkah pencegahan ketat dengan menempatkan hampir 200 penumpang kapal dalam masa karantina di dekat ibu kota Kinshasa, Kamis 6 Agustus 2026.
Tindakan darurat ini diambil menyusul kematian seorang pelaku perjalanan yang sempat menaiki kapal tersebut dengan menunjukkan gejala klinis yang cocok dengan virus Ebola.
Wabah Ebola yang melanda Kongo sejak Mei lalu kini tercatat sebagai transmisi tercepat dalam sejarah. Berdasarkan data dari Direktur Jenderal Africa CDC, Dr. Jean Kaseya, total kasus terkonfirmasi telah mencapai angka 4.000, dengan lebih dari 1.800 jiwa dilaporkan meninggal dunia.
Dalam keterangannya pada hari Kamis, Kaseya menjelaskan bahwa penumpang yang kemudian meninggal dunia tersebut jatuh sakit dan turun dari kapal hampir tiga pekan lalu di Pimu, Provinsi Mongala.
Wilayah tersebut terletak lebih dari 1.000 kilometer atau sekitar 600 mil dari Kinshasa di sepanjang aliran Sungai Kongo. Kendati demikian, Kaseya memastikan bahwa hingga saat ini belum ada kasus Ebola yang terkonfirmasi di ibu kota.
Pihak berwenang belum memberikan rincian pasti mengenai posisi terkecil kapal selain mengonfirmasi bahwa posisinya berada di sekitar ibu kota. Detail mengenai apakah para penumpang dikarantina di atas kapal atau dipindahkan ke fasilitas daratan juga belum diumumkan secara terbuka, sementara tim medis masih menunggu hasil uji laboratorium keluar.
"Kami memutuskan untuk melakukan langkah tersebut, bahkan jika sebagian dari mereka tidak menunjukkan gejala, karena kami ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun yang terlewat," ujar Kaseya.
Virus Ebola dikenal sangat menular. Penularan antarmanusia terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti muntah, darah, atau air mani, serta melalui permukaan dan material yang terkontaminasi, termasuk seprai dan pakaian.
Berita kematian tersebut sempat memicu kepanikan di Kinshasa, sebuah wilayah yang secara geografis jauh dari kawasan timur yang menjadi pusat wabah. Epidemi kali ini tercatat sebagai wabah terbesar kedua dalam catatan sejarah, berada di bawah wabah Afrika Barat tahun 2014 hingga 2016 yang mencatatkan lebih dari 28.000 kasus dan lebih dari 11.000 kematian.
Pemerintah melaporkan bahwa 60 hingga 70 persen kasus baru dalam wabah saat ini ditemukan di luar daftar pantauan kontak erat. Laju penyebaran tersebut dinilai berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan bergerak lebih cepat daripada kapasitas pelacakan yang ada.
Mogok Kerja Tenaga Medis Perparah Krisis
Situasi krisis semakin pelik menyusul aksi protes yang dilakukan oleh puluhan tenaga kesehatan di episentrum wabah, Provinsi Ituri, pada hari Kamis. Mereka menuntut pembayaran upah yang tertunda dengan meninggalkan fasilitas kesehatan, sehingga memperparah lumpuhnya layanan perawatan kritis.
Para tenaga medis tersebut menggelar aksi di depan kantor gubernur di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri. Wilayah ini menyumbang hampir 90 persen dari total kasus Ebola di negara tersebut. Aksi ini merupakan rangkaian dari aksi protes gaji yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Para perawat yang berada di garis depan dalam merawat pasien Ebola menyatakan bahwa mereka belum menerima gaji dan bonus sejak wabah diumumkan pada pertengahan Mei di salah satu wilayah paling terpencil dan rentan di Kongo, yang juga dilanda konflik bersenjata.
Sebelumnya, para pejabat kerap menyalahkan kendala logistik sebagai penyebab keterlambatan pembayaran tersebut. Otoritas Kongo belum memberikan tanggapan langsung saat dimintai konfirmasi pada hari Kamis.
Kesejahteraan tenaga kerja garis depan selama ini menjadi salah satu sumber kekhawatiran utama dalam penanganan wabah. Selain masalah administrasi pembayaran, banyak fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang kerap menjadi sasaran serangan kelompok pemberontak serta amukan warga setempat.
Dalam kunjungan kerjanya ke Kongo pada hari Rabu, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak pemerintah setempat agar memprioritaskan perlindungan dan dukungan penuh bagi para tenaga medis penanggulangan wabah.
Organisasi kemanusiaan medis Doctors Without Borders pekan ini menyatakan bahwa wabah tersebut masih menyebar pada tingkat yang mengkhawatirkan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Respons yang telah diperluas dinilai masih belum mampu menjangkau komunitas secara cukup cepat untuk memutus rantai penularan.
Berdasarkan data pemerintah, sebanyak 674 pasien saat ini berada dalam ruang isolasi, dengan sebagian besar terkonsentrasi di Ituri. Sekitar 75 persen dari kontak erat dilaporkan berhasil dilacak setelah paparan.
Namun, tantangan terbesar bagi para pejabat adalah efektivitas pelacakan yang belum optimal, mengingat sebagian besar kasus baru bersumber dari wilayah terpencil serta mobilitas terkait aktivitas pertambangan dan konflik bersenjata yang membatasi akses petugas.









