TVRINews – Sana’a, Yaman
Eskalasi militer melonjak setelah serangan udara Houthi menargetkan basis pertahanan pemerintah di Marib dan Hadramout, memupus harapan damai yang selama ini dirintis.
Peperangan skala besar kembali menghantui kawasan Yaman setelah serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak menghantam fasilitas militer pemerintah. Insiden mematikan ini sekaligus menandai titik balik keruntuhan status quo "tanpa perang tanpa damai" yang rapuh selama beberapa tahun terakhir.
Ketegangan memuncak saat gelombang serangan udara menerpa pos pertahanan resmi di wilayah strategis Marib dan Hadramout. Otoritas kesehatan setempat melaporkan puluhan prajurit gugur serta belasan lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa yang diklaim sebagai babak baru eskalasi bersenjata.
Yaya Saree, juru bicara militer kelompok pemberontak kepada Al jazeera, menyatakan bahwa langkah ofensif tersebut terpaksa diambil guna merespons apa yang mereka sebut sebagai mobilisasi militer besar-besaran di perbatasan.
Kendati demikian, pihak pemerintah dan koalisi pendukungnya menilai agresi tersebut sebagai bentuk pengkhianatan nyata terhadap proses dialog damai yang tengah diupayakan oleh komunitas internasional.
Sejumlah pengamat internasional menilai bahwa jendela diplomasi kini menyempit secara drastis. Ahmed Nagi, peneliti senior dari International Crisis Group, mengungkapkan bahwa rentetan provokasi militer belakangan ini mengindikasikan kecilnya peluang untuk kembali pada kebijakan penahanan diri (containment policy).
"Meskipun masih ada ruang kecil bagi kedua belah pihak untuk menahan diri, setiap langkah eskalasi baru membuat upaya damai menjadi jauh lebih rumit. Risiko meletusnya perang babak baru kini jauh lebih besar dibanding peluang de-escalation," ujar Nagi dikutip Al Jazeera Sabtu 8 Agustus 2026.
Situasi kemanusiaan dan keamanan di lapangan turut dirasakan langsung oleh warga sipil. Abdul Rahman Saleh, seorang warga ibu kota berusia 34 tahun, mengaku bahwa atmosfer ketakutan kembali mendominasi kehidupan sehari-hari masyarakat setelah suara ledakan beruntun terdengar di berbagai penjuru kota.
Sementara itu, Fuad Mussed, pengamat urusan politik dan militer asal Yaman, berpandangan bahwa kelompok pemberontak telah mengambil keputusan bulat untuk memilih jalur konfrontasi terbuka, baik di dalam negeri maupun melalui perluasan aliansi regional di kawasan Laut Merah.
Di sisi lain, para pejabat tinggi yang berafiliasi dengan kepemimpinan nasional menegaskan bahwa tidak ada lagi ruang kompromi bagi kelompok militan yang terus mengancam kedaulatan negara. Sheikh Othman Majali, anggota Dewan Kepemimpinan Presidensi dukungan Saudi, menyatakan bahwa stabilitas regional mustahil terwujud sebelum ancaman milisi tersebut dapat diatasi sepenuhnya.









