TVRINews – Kolombia
Bantuan AS Rp15 Triliun untuk Kolombia
Pemerintahan Amerika Serikat mengumumkan rencana penyaluran bantuan keamanan senilai 1 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan sekitar Rp15 triliun bagi Kolombia.
Kebijakan strategis ini menjadi sorotan public kolombia tidak lama setelah pelantikan Presiden baru Kolombia, Abelardo De La Espriella, yang mengusung agenda pemberantasan narkotika secara masif serta pemulihan stabilitas ekonomi nasional.
De La Espriella, 48, memenangi pemilihan umum putaran kedua pada Juni lalu melalui platform politik yang berfokus pada penumpasan kelompok bersenjata, perampingan birokrasi pemerintahan hingga 40 persen, serta revitalisasi sektor minyak dan gas bumi.
Dalam pidato pelantikannya yang berlangsung selama 75 menit Jumat 7 Agustus 2026 di Pangkalan Militer Batalyon Pichincha, Cali, pada Jumat, De La Espriella menegaskan komitmennya untuk membawa perubahan fundamental bagi arah bangsa.
"Saya datang untuk menutup bab panjang tentang kepasrahan nasional dan, bersama rakyat, memulai transformasi paling mendalam atas takdir kita," ujar De La Espriella di hadapan jajaran pasukan.
Politisi yang mendapat dukungan terbuka dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersebut juga menyampaikan peringatan keras kepada elemen kriminal di dalam negeri. Ia menyatakan bahwa opsi perundingan damai dengan kelompok bersenjata telah sepenuhnya tertutup.
"Anggota geng kriminal dan kelompok teroris narkotika memiliki dua pilihan: tunduk pada supremasi hukum atau menghadapi respons tegas dari negara Kolombia beserta aparat keamanannya," tegas De La Espriella.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dalam keterangan resminya pada Jumat mengonfirmasi komitmen tersebut. Washington, bekerja sama dengan Kongres AS, berniat mengalirkan paket keamanan guna mendukung pemerintahan Presiden De La Espriella dalam mewujudkan visi strategis bersama.
Kemenangan De La Espriella merefleksikan pergeseran politik ke arah kanan yang tengah melanda kawasan Amerika Latin. Lemahnya kondisi perekonomian serta peningkatan angka kriminalitas di sejumlah negara seperti Peru, Argentina, Cile, Ekuador, Bolivia, dan Panama telah mengubah preferensi pemilih, sekaligus membuka jalan bagi kandidat berhaluan nasionalis sayap kanan untuk memegang kendali.
Meski demikian, para pengamat menilai bahwa sejumlah kebijakan kontroversial De La Espriella kemungkinan akan menghadapi tantangan legislatif yang signifikan, mengingat parlemen negara tersebut terbagi secara politik dan memerlukan kompromi dalam proses perundang-undangan.
Di tengah agenda domestik yang padat, pelantikan tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh internasional, termasuk Raja Spanyol, para pemimpin negara Amerika Latin, serta Presiden FIFA Gianni Infantino. Sementara itu, delegasi Amerika Serikat dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche.
Di sisi lain, dinamika politik internal Kolombia masih diwarnai ketegangan. De La Espriella menuding mantan presiden Gustavo Petro bertanggung jawab atas meluasnya pengaruh kelompok bersenjata. Petro sendiri tidak mengakui hasil kemenangan pemilu tersebut.
Sebagai bentuk perlawanan politik, tokoh sayap kiri sekaligus mantan rival dalam pemilihan, Senator Ivan Cepeda, memimpin aksi unjuk rasa di Barranquilla pada hari Jumat.8 Agustus 2026 Di hadapan para pendukungnya, Cepeda menyerukan perlawanan damai demi mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi di Kolombia.









