TVRINews – Lebanon
Penghancuran Tempat Tinggal Meluas dari Tepi Barat hingga Lebanon
Gelombang penghancuran tempat tinggal dan infrastruktur sipil yang masif di wilayah-wilayah konflik terus meluas, menciptakan krisis kemanusiaan berkepanjangan bagi ribuan warga sipil.
Laporan dari berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa operasi militer yang berlangsung di Tepi Barat, Jalur Gaza, hingga Lebanon Selatan telah meratakan puluhan ribu bangunan dan memaksa ratusan ribu penduduk meninggalkan kediaman mereka tanpa kepastian untuk kembali.
Di Kota Hebron, Tepi Barat, pengamanan ketat diberlakukan menyusul insiden keamanan yang menelan korban jiwa di pos pemeriksaan militer. Sejak saat itu, pembatasan ketat diterapkan terhadap sekitar 800.000 penduduk di wilayah kegubernuran tersebut.
Berdasarkan data Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Minggu 1 November 2026, kebijakan pengosongan paksa ini telah membuat hampir 5.000 warga kehilangan tempat tinggal dalam kurun waktu singkat.
Sejumlah rumah yang dikosongkan ditandai dengan simbol khusus, sementara sebagian lainnya dialihfungsikan menjadi pos pengamanan militer. Roland Friedrich, Direktur UNRWA di Tepi Barat, menyatakan bahwa situasi di Hebron memiliki kemiripan dengan operasi militer sebelumnya di wilayah utara Tepi Barat yang mengosongkan kamp-kamp pengungsian seperti Jenin, Tulkarem, dan Nur Shams.
Hingga kini, lebih dari 34.000 pengungsi dari wilayah tersebut masih belum dapat kembali ke tempat asal mereka.
Analisis dari kelompok riset Forensic Architecture mengindikasikan adanya pola perusakan yang sistematis terhadap infrastruktur perkotaan dan permukiman. Penyelidikan tersebut mencatat penggunaan alat berat dan serangan udara yang mengakibatkan pelebaran jalur secara paksa melalui kawasan permukiman untuk memfasilitasi mobilitas kendaraan militer.
Dampak kemanusiaan yang lebih parah terlihat di Jalur Gaza. Berdasarkan pemetaan citra satelit dari Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOSAT), mayoritas struktur bangunan di wilayah tersebut mengalami kerusakan berat atau hancur total. Sebagian besar warga kini terpaksa bertahan hidup di dalam tenda darurat atau bangunan yang rusak di tengah keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.
Mohammed al-Jamal, seorang warga berusia 60 tahun asal kota Gaza yang telah mengalami pengungsian berulang kali, mengungkapkan kesulitan yang dihadapi keluarganya. "Kami tinggal di jalanan, bukan di dalam rumah yang memberikan perlindungan," ujarnya saat menggambarkan kondisi tenda darurat mereka di kawasan pantai.
Sementara itu, situasi serupa terjadi di Lebanon Selatan. Penilaian dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) serta Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat puluhan ribu bangunan rusak dan ratusan ribu penduduk mengungsi akibat eskalasi konflik.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah disepakati, kehadiran pasukan militer di beberapa wilayah selatan membuat para warga masih ragu untuk kembali ke tempat tinggal mereka.
Menanggapi situasi ini, Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Volker Turk, menyampaikan keprihatinannya atas dampak pengosongan kawasan permukiman tersebut serta mendesak agar seluruh warga yang mengungsi diberikan hak untuk kembali ke kediaman masing-masing.









