TVRINews – Jerman
Aksi unjuk rasa massal oleh puluhan ribu generasi muda menyoroti pemotongan anggaran sosial dan rencana wajib militer di berbagai kota besar Jerman.
Gelombang demonstrasi nasional dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Jerman pada Sabtu 31 Oktober 2026, menyusul pendaftaran sekitar 175.000 peserta yang dimotori oleh inisiatif pemuda setempat.
Aksi ini digalang untuk merespons kebijakan pemotongan anggaran sosial, wacana pengaktifan kembali wajib militer, serta lonjakan biaya hidup yang dinilai kian membebani generasi muda.
Inisiatif kepemudaan nasional, Gen Z Regelt, menghimpun pelajar tingkat menengah dan mahasiswa untuk turun ke jalan di lebih dari 30 kota utama, termasuk Berlin, Hamburg, Munich, Frankfurt, dan Cologne. Selain isu anggaran dan pertahanan, para demonstran turut mendesak peningkatan alokasi dana pendidikan serta langkah nyata pemerintah dalam menangani krisis iklim.
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa seluruh rangkaian aksi dilangsungkan secara damai dan menolak segala bentuk tindakan anarkis.
Dukungan politik terhadap gerakan ini datang dari partai oposisi. Ketua Fraksi Partai Hijau di parlemen, Katharina Droege, mendesak pemerintah agar membuka ruang dialog dengan para perwakilan pemuda.
"Kanselir harus mendengarkan kritik dari kaum muda dan menanggapi kekhawatiran mereka dengan serius," ujar Droege kepada media lokal.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Bersama Partai Kiri, Luigi Pantisano, menyatakan solidaritas terhadap aksi damai ini sekaligus menyayangkan adanya upaya kelompok politik tertentu yang berupaya mendiskreditkan gerakan tersebut.
Meski demikian, pelaksanaan demonstrasi ini sempat diwarnai dinamika internal. Sejumlah organisasi pelajar terbesar di Jerman, termasuk BSK dan sayap pemuda Partai Demokrat Sosial (Jusos), sebelumnya menarik dukungannya akibat kendala transparansi struktural daring dari para penggagas aksi.
Aparat keamanan Jerman merespons situasi ini dengan meningkatkan siaga di berbagai titik strategis. Sejumlah pemilik usaha di kawasan komersial utama Berlin, Frankfurt, dan Cologne tampak menutup fasad toko mereka sebagai langkah antisipasi.
Di negara bagian North Rhine-Westphalia, di mana sekitar 44.000 orang tercatat mengikuti unjuk rasa, pengamanan diperketat secara signifikan menyusul penangkapan empat pria di Duesseldorf atas dugaan perencanaan tindakan provokatif. Kendati demikian, kepolisian setempat menyatakan belum dapat memastikan keterkaitan para terduga pelaku dengan kelompok demonstran.
Menteri Dalam Negeri North Rhine-Westphalia, Herbert Reul, menegaskan bahwa negara menjamin kebebasan menyampaikan pendapat, namun aparat penegak hukum akan bertindak tegas terhadap segala bentuk eskalasi kekerasan.
"Kami tidak akan menoleransi upaya apa pun yang bertujuan mengubah aksi damai menjadi tindakan anarkis atau kekacauan," ungkap Reul, merujuk pada potensi kerusuhan serupa yang pernah terjadi di negara tetangga.









