TVRINews – Paris Prancis
Bentrokan meletus di Prancis dan Jerman saat puluhan ribu demonstran memprotes biaya hidup serta penurunan layanan publik, berujung pada ratusan penangkapan.
Gelombang unjuk rasa menuntut perbaikan biaya hidup dan layanan publik di sejumlah kota besar Eropa berujung pada bentrokan fisik antara aparat keamanan dan massa. Demonstrasi yang awalnya berlangsung tertib di Prancis dan Jerman berubah tegang hingga Sabtu 31 Oktober 2026 malam waktu setempat, memicu tindakan represif kepolisian untuk membubarkan kerumunan.
Di Prancis, Kementerian Dalam Negeri mencatat sekitar 320.000 orang berpartisipasi dalam aksi protes nasional jilid ketiga ini. Paris dan Marseille menjadi titik ketegangan utama ketika kelompok perusuh bertopeng mulai melemparkan batu paving serta bom molotov ke arah aparat penegak hukum.

(Kobaran api membumbung setelah bom molotov jatuh di dekat truk meriam air kepolisian dalam unjuk rasa anti-pemerintah di Tirana, Albania, Sabtu 31 Oktober 2026 (Foto: Florion Goga/Reuters))
"Kami mendapati tingkat kekerasan yang luar biasa dari sebagian perusuh saat demonstrasi berakhir," ujar Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, seperti dikutip dari laporan internasional, seraya menyebut insiden pelemparan bom molotov kepada seorang personel kepolisian sebagai upaya pembunuhan.
Pihak kepolisian Prancis mengerahkan sekitar 70.000 personel dan mengambil tindakan tegas dengan menembakkan gas air mata serta granat kejut. Sebanyak 511 orang dilaporkan ditangkap dalam operasi pengamanan tersebut. Aksi protes ini merupakan gabungan dari serikat pekerja, mahasiswa, dan gerakan rompi kuning yang mengecam kebijakan pemerintah di tengah kesulitan ekonomi.
"Ekonomi Prancis berada dalam kondisi buruk karena dijalankan oleh pihak-pihak yang abai terhadap kesulitan keluarga pekerja," kata Jérôme Rodrigues, salah satu peserta aksi di Paris.

(Seorang pengunjuk rasa menendang balik tabung gas air mata di Paris, Sabtu 31 oktober 2026. (Foto: Pedro Nunes/Reuters))
Kondisi serupa terjadi di Jerman. Ribuan aparat kepolisian dikerahkan di berbagai kota untuk menghadapi aksi unjuk rasa pemuda yang tergabung dalam kelompok "Gen Z regelt!". Menjelang malam, situasi di Frankfurt, Cologne, dan Berlin memanas setelah sebagian massa melemparkan kembang api, botol, serta telur ke arah petugas.
Di Frankfurt, aparat kepolisian kewalahan saat sejumlah toko dilaporkan mengalami penjarahan dan kerusakan akibat kericuhan. Kepolisian Jerman bertindak cepat menggunakan meriam air dan semprotan merica guna memulihkan ketertiban umum di sejumlah titik rawan.
Rangkaian unjuk rasa ini menandakan eskalasi ketidakpuasan sosial yang meluas di kawasan Eropa. Para mahasiswa dan serikat pekerja di Prancis berencana melanjutkan aksi blokade sekolah serta bergabung dalam demonstrasi lanjutan pada pertengahan pekan mendatang.









