TVRINews – Washington DC
Pentagon revisi proyeksi biaya perang setelah kehilangan aset udara bernilai miliaran dolar.
Kerugian material komprehensif dari operasi militer Amerika Serikat di Iran mulai terungkap ke publik. Sebuah laporan terbaru dari Layanan Riset Kongres (CRS) yang diperbarui pada pertengahan Mei ini, mengonfirmasi bahwa sedikitnya 42 pesawat militer AS hancur atau mengalami kerusakan fatal sejak dimulainya Operasi Epic Fury.
Sejalan dengan rilis laporan tersebut, Plt. Pengawas Keuangan Pentagon, Jules W. Hurst III, menyampaikan kepada Kongres bahwa estimasi biaya perang kini membengkak menjadi $29 miliar dolar AS (sekitar Rp464 triliun), naik dari perkiraan awal sebesar $25 miliar dolar AS.
"Sebagian besar peningkatan tersebut berasal dari penyesuaian estimasi biaya perbaikan serta penggantian alutsista yang rusak," ujar Hurst dalam dengar pendapat bersama Kongres Jumat 22 Mei 2026.
Rincian Alutsista dan Korban Jiwa
Berdasarkan data yang dihimpun dari pernyataan Komando Sentral AS (CENTCOM) dan sejumlah laporan resmi, kerugian mencakup beberapa jet tempur garda depan dan pesawat pendukung logistik vital:
• Jet Tempur: Empat unit F-15E Strike Eagle dilaporkan jatuh. Tiga di antaranya akibat insiden salah tembak (friendly fire) di wilayah udara Kuwait, sementara satu unit lainnya jatuh dalam operasi tempur di Iran. Selain itu, satu unit jet siluman F-35A Lightning II dan sebuah pesawat penyerang darat A-10 Thunderbolt II dilaporkan mengalami kerusakan serius akibat serangan darat.
• Pesawat Tanker dan Logistik: Tujuh pesawat pengisi bahan bakar KC-135 Stratotanker hancur atau rusak. Insiden paling fatal terjadi saat dua KC-135 terlibat kecelakaan di Irak yang menewaskan seluruh kru pesawat yang berjumlah enam orang. Lima unit lainnya rusak di pangkalan Arab Saudi akibat serangan drone dan rudal.
• Operasi Khusus: Dua pesawat operasi khusus MC-130J Commando II terpaksa dihancurkan dengan sengaja di darat setelah tidak mampu lepas landas saat menjalankan misi penyelamatan pilot F-15E yang jatuh di Iran.
Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Angkatan Udara Dan Caine, dalam konferensi persnya membenarkan sejumlah kehilangan taktis ini, termasuk kerusakan pada satu helikopter penyelamat HH-60W Jolly Green II akibat tembakan senjata ringan.
Kerugian Strategis Armada Drone
Sektor yang paling terpukul dalam operasi ini adalah armada pesawat tanpa awak. Sebanyak 24 unit drone MQ-9 Reaper dilaporkan hilang, disusul jatuh-nya satu drone pengintai mutakhir MQ-4C Triton akibat kegagalan teknis. Kehilangan ini dinilai menjadi pukulan telak bagi strategi jangka panjang Pentagon.
Setiap unit MQ-9 Reaper diperkirakan bernilai $30 juta dolar AS. Dengan berhentinya lini produksi aktif untuk kebutuhan domestik AS, total kerugian dari sektor drone ini mencapai hampir $1 miliar dolar AS, atau setara dengan 20 persen dari total inventaris pracetak Pentagon.
"Meskipun MQ-9 dapat digantikan karena tidak berawak, biaya produksinya terlalu mahal dan jumlahnya terlalu sedikit. Tanpa adanya lini produksi yang aktif, drone ini tidak bisa dianggap sebagai aset yang bisa dibuang begitu saja," kata Becca Wasser, Kepala Bidang Pertahanan di Bloomberg Economics.
Informasi dari internal pertahanan mengindikasikan angka kehilangan drone riil bisa mencapai 30 unit jika menghitung armada yang rusak parah dan tidak bisa digunakan kembali.
Dampak Kesiapan Militer dan Finansial
Laporan CRS secara tegas menyoroti sejumlah risiko strategis yang dihadapi AS pasca-operasi ini. Penggantian seluruh 42 pesawat diproyeksikan menelan biaya tambahan sekitar $7 miliar dolar AS.
Berdasarkan estimasi independen, satu unit F-35A sendiri berbiaya $110 juta dolar AS, sedangkan penggantian tujuh unit KC-135 diprediksi membutuhkan dana mencapai $1,8 billion dolar AS.
Selain beban fiskal, Kongres juga mempertanyakan kapasitas basis industri pertahanan AS saat ini untuk mengejar ketertinggalan produksi di tengah ketatnya permintaan ekspor militer ke luar negeri. K
ehilangan platform langka seperti pesawat pemantau E-3 Sentry juga memicu kekhawatiran munculnya celah kemampuan (capability gaps) yang dapat mengganggu kesiapan operasional AS di kawasan geopolitik lainnya.
Operasi Epic Fury, yang diluncurkan secara bersama oleh Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari, sempat mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan disepakati pada awal April, meskipun sejumlah kontak senjata sporadis dilaporkan masih terus terjadi.










