TVRINews – Teheran
Uni Emirat Arab Memperingatkan Tehran untuk Tidak Salah Langkah di Tengah Negosiasi Jalur Batas Laut yang Menentukan Stabilitas Pasokan Minyak Global
Upaya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz kini berada dalam posisi berimbang.
Uni Emirat Arab (UEA) menilai peluang tercapainya kesepakatan tersebut saat ini hanya menyentuh angka "50-50", di tengah berlangsungnya gencatan senjata yang rapuh dalam konflik Timur Tengah.
Penasihat Kepresidenan UEA, Anwar Gargash, mendesak pihak Tehran agar tidak salah dalam memperhitungkan posisi tawar mereka dalam negosiasi yang kerap mengalami pasang surut tersebut. Ia menegaskan bahwa jalur perairan strategis itu harus segera kembali berfungsi normal.
"Pihak berwenang Iran telah melewatkan banyak peluang selama bertahun-tahun karena adanya kecenderungan untuk menilai kartu mereka secara berlebihan. Saya berharap mereka tidak melakukan hal yang sama kali ini," ujar Gargash saat berbicara di Forum GLOBSEC di Praha, Jumat 22 Mei 2026.
Urgensi Jalur Pasokan Energi Global
Selat Hormuz, yang saat ini diblokade oleh Iran, memegang peran krusial terhadap stabilitas ekonomi dunia karena mengalirkan sekitar seperlima dari total produksi minyak global.
Gargash menekankan bahwa UEA menolak hasil negosiasi yang hanya menghasilkan gencatan senjata tanpa kepastian jangka panjang.
Menurutnya, kesepakatan yang setengah-setengah justru berisiko memicu konflik baru di masa depan. Fokus utama kawasan saat ini adalah mengembalikan status Selat Hormuz sebagai perairan internasional yang bebas dan aman dari blokade.
"Bernegosiasi hanya untuk mencapai gencatan senjata dan menanam benih konflik lanjutan di masa depan bukanlah apa yang kami cari. Dan saya pikir Selat Hormuz jelas harus kembali ke status quo sebelumnya sebagai jalur perairan internasional," tambahnya.
Pergeseran Fokus Keamanan Kawasan
Kekhawatiran UEA didasarkan pada eskalasi yang terjadi selama 40 hari masa perang sejak 28 Februari lalu. Sebagai negara yang menampung fasilitas militer AS, wilayah UEA sempat menjadi sasaran serangan sekitar 3.300 pesawat nirawak (drone) dan rudal, di mana hanya sekitar 4 persen di antaranya yang berhasil menembus sistem pertahanan.
Pengalaman tersebut mengubah peta prioritas keamanan bagi Abu Dhabi. Di saat para negosiator AS berfokus pada potensi pengembangan senjata atom oleh Iran, UEA kini menempatkan program nuklir Tehran sebagai ancaman paling mendesak.
"Program nuklir Iran dulunya merupakan kekhawatiran kedua atau ketiga kami; sekarang itu menjadi kekhawatiran nomor satu," kata Gargash.
Ia menutup pernyataannya dengan catatan reflektif mengenai pembelajaran dari konflik terbaru. "Kami melihat bahwa Iran mampu menggunakan senjata apa pun yang ada di tangan mereka, itulah pelajaran yang kami petik."










