TVRINews, Montreal
Air France terpaksa mendarat di Kanada setelah mendapati kekeliruan boarding terkait pembatasan karantina Ebola.
Sebuah penerbangan internasional rute Paris menuju Detroit terpaksa dialihkan ke Kanada setelah seorang penumpang dari wilayah terdampak Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) terlanjur naik ke pesawat akibat kekeliruan prosedur.
Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (CBP) mengonfirmasi kepada BBC bahwa berdasarkan aturan pembatasan ketat masuk AS guna mencegah penyebaran virus mematikan tersebut, penumpang yang bersangkutan seharusnya tidak diizinkan masuk ke dalam pesawat Air France.
Hingga saat ini, wabah Ebola yang melanda Afrika Tengah diperkirakan telah merenggut hampir 140 nyawa, dengan lebih dari 600 kasus dugaan yang berhasil diidentifikasi. Meski demikian, otoritas terkait belum merinci kapan tepatnya posisi terakhir penumpang tersebut saat berada di RD Kongo.
Prosedur Karantina dan Asimtomatik
Otoritas kesehatan Kanada memastikan bahwa penumpang tersebut tidak menunjukkan gejala klinis dan telah diterbangkan kembali menuju Prancis.
"Seorang Petugas Karantina dari Badan Kesehatan Masyarakat Kanada telah memeriksa pelancong tersebut dan menetapkan bahwa mereka berstatus asimtomatik," demikian pernyataan resmi dari Health Canada Jumat 22 Mei 2026.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, individu yang terinfeksi Ebola hanya dapat menularkan virus setelah mereka mulai menunjukkan gejala resmi. Masa inkubasi atau kemunculan gejala sendiri berkisar antara dua hingga 21 hari setelah paparan awal.
Kesaksian dari Kabin Pesawat
Suasana di dalam kabin sempat diwarnai kepatuhan protokol saat awak pesawat mulai mengenakan masker pasca-pengumuman pengalihan oleh kapten pilot.
Deborah Mistor, salah satu penumpang dalam penerbangan tersebut, menyampaikan kepada mitra BBC, CBS News, bahwa seluruh penumpang baru diinformasikan mengenai perubahan rute sekitar empat jam sebelum jadwal pendaratan awal.
"Saya rasa banyak orang mulai bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. Karena 30 menit kemudian, [kapten] kembali berbicara dan menegaskan bahwa tidak ada kendala teknis pada pesawat. Hal ini murni karena otoritas AS tidak mengizinkan kami mendarat di wilayah Amerika Serikat," ujar Mistor.
Pihak maskapai Air France kemudian mengonfirmasi kepada media lokal bahwa atas permintaan otoritas AS, penerbangan dialihkan ke Bandara Montreal setelah seorang penumpang asal Kongo ditolak hak masuknya ke Amerika Serikat.
Setelah melalui pemeriksaan di Montreal, para penumpang lain akhirnya diterbangkan kembali menuju Detroit menggunakan pesawat yang sama.
Respons Ketat Otoritas Perbatasan
Perwakilan CBP menegaskan bahwa terdapat kesalahan manifes saat proses keberangkatan awal di Prancis.
"Air France secara keliru menaikkan seorang penumpang dari Republik Demokratik Kongo dalam penerbangan menuju Amerika Serikat," ungkap juru bicara CBP.
Langkah tegas segera diambil oleh badan tersebut demi mencegah pesawat mendarat di Bandara Metropolitan Wayne County Detroit, dan mengalihkannya sejauh 500 mil (sekitar 800 kilometer) ke arah Montreal, Kanada.
Saat ini, Amerika Serikat tengah menerapkan pembatasan masuk yang sangat ketat bagi warga negara asing nonsubjek paspor AS yang memiliki riwayat perjalanan ke RD Kongo, Sudan Selatan, atau Uganda dalam tiga minggu terakhir.
Bagi pemegang paspor AS maupun penduduk tetap yang baru kembali dari negara-negara tersebut, mereka hanya diizinkan masuk melalui Bandara Internasional Dulles Washington di Virginia guna menjalani skrining kesehatan lanjutan yang lebih komprehensif.
Status Darurat Global
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah menetapkan status wabah Ebola saat ini sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (Public Health Emergency of International Concern).
Meskipun CDC menyatakan risiko penyebaran di dalam negeri Amerika Serikat tergolong rendah, langkah preventif berlapis tetap diberlakukan secara ketat. Sejauh ini, tercatat satu warga negara AS seorang dokter yang bertugas bersama kelompok misionaris medis di RD Kongo terkonfirmasi positif dan tengah menjalani perawatan intensif di ruang isolasi khusus di sebuah rumah sakit di Jerman.
Hingga berita ini diturunkan, varian virus spesies Bundibugyo yang memicu wabah tersebut dilaporkan belum memiliki vaksin resmi. WHO menambahkan bahwa pengembangan serta kesiapan vaksin khusus untuk varian ini diperkirakan membutuhkan waktu hingga sembilan bulan ke depan.










