TVRINews, Washington
Kebijakan Impor Daging Sapi AS Mengancam Basis Pemilih Republik di Tengah Lonjakan Inflasi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi jalan buntu dalam merumuskan kebijakan domestik sekembalinya dari kunjungan kerja di China.
Pemerintah kini terjebak di antara dua kepentingan krusial menjelang pemilihan umum: menjaga loyalitas komunitas peternak yang menjadi basis suara Partai Republik, atau meredam keresahan pemilih akibat lonjakan harga daging sapi yang kian tak terkendali.
Fokus utama Gedung Putih saat ini tertuju pada draf keputusan presiden (executive order) terkait penangguhan tarif impor daging sapi sementara.
Langkah yang diproyeksikan mampu menekan harga di tingkat konsumen ini terpaksa ditunda akibat gelombang protes dari para anggota parlemen di negara bagian agraris serta asosiasi industri peternakan.
Dilema ini muncul di tengah situasi ekonomi yang sensitif. Berdasarkan data ekonomi terbaru Kementerian Ekonomi AS, harga daging sapi di AS terus merangkak naik sebesar 2,7 persen pada bulan lalu.
Harga daging sapi cincang, yang menjadi indikator utama kebutuhan pangan harian masyarakat, kini mendekati angka 7 dolar AS per pon melambung sekitar 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Dia (Trump) memiliki jaringan hotel dan country club. Mereka membeli daging sapi dalam jumlah besar, jadi dia sangat memahami situasi ini," ujar Gedung Putih.
Namun, ia menambahkan adanya kekhawatiran internal bahwa intervensi kebijakan ini tidak akan dirasakan dampaknya oleh pemilih tepat waktu sebelum hari pemungutan suara tiba.
Resistensi Sektor Agraris
Rencana relaksasi tarif impor dinilai para politisi Republik di Kongres hadir pada momen yang salah.
Saat ini, sektor peternakan domestik tengah mengalami tekanan hebat akibat bencana kekeringan panjang dan ancaman parasit New World screwworm yang berisiko menyusutkan populasi ternak nasional kutip Politico Sabtu 16 Mei 2026.
"Ini akan menjadi keseimbangan yang sangat menantang bagi pemerintah," kata Senator Cynthia Lummis dari Wyoming.
Senada dengan Lummis, Senator Jerry Moran dari Kansas mengungkapkan bahwa sektor peternakan merupakan satu-satunya lini agrobisnis yang saat ini masih mampu menghasilkan profit bagi para petani di daerahnya.
"Upaya untuk meningkatkan volume impor daging sapi akan sangat merusak stabilitas sektor pertanian secara umum di negara bagian kami," tutur Moran.
Tekanan Inflasi Global
Meskipun China dikabarkan telah memperbarui 400 lisensi ekspor untuk pabrik daging sapi AS sebuah langkah yang dapat memberi sedikit ruang napas bagi peternak local tekanan inflasi di dalam negeri tetap menjadi prioritas yang mendesak bagi pemerintah.
"Isu nomor satu yang dihadapi sebagian besar pemilih adalah biaya hidup," kata Whit Ayres, seorang peneliti opini publik dari Partai Republik di Washington.
Menurutnya, lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik di Iran mulai merembet ke sektor barang konsumsi lain, terutama bahan makanan.
Seorang sumber internal Gedung Putih meyakini bahwa pada akhirnya Presiden Trump akan lebih memprioritaskan kepentingan konsumen luas.
"Saya rasa dia tidak akan memberikan perhatian sebesar itu kepada peternak dibandingkan kepada masyarakat AS secara umum. Dia tidak ingin hotel-hotel miliknya terpaksa menetapkan harga hingga 25 atau 30 dolar AS hanya untuk sebuah hamburger," ujarnya.
Kebijakan yang Dinilai Kurang Efektif
Upaya pemerintah AS untuk mengintervensi pasar daging sebenarnya bukan hal baru. Awal tahun ini, Washington telah melipatgandakan kuota impor daging sapi dari Argentina.
Sebagai kompensasi bagi peternak lokal, pemerintah menyertakan klausul akses pasar baru di Argentina serta pembatasan jenis daging yang boleh masuk.
Namun, kebijakan tersebut belum membuahkan hasil di tingkat pasar. Produksi daging sapi AS diproyeksikan kembali menurun pada tahun 2026, yang memicu kelangkaan pasokan dan mempertahankan harga pada rekor tertinggi.
Saat ini, harga rata-rata daging sapi cincang berada di angka 6,89 dolar AS per pon, naik sekitar 24 percent sejak awal masa jabatan presiden.
Para ekonom dan pelaku industri menyangsikan bahwa peningkatan keran impor akan mampu menyelesaikan akar masalah. Kebijakan ini dinilai tidak menyentuh faktor utama pembentuk harga tinggi, seperti lonjakan biaya logistik dan harga solar yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Ini berpotensi menjadi situasi lose-lose secara politik," kata Lori Wallach, Direktur Rethink Trade dari American Economic Liberties Project.
"Para peternak yang mendukung Trump akan kecewa, sementara sentimen publik tetap negatif karena harga di tingkat konsumen tidak kunjung turun."
Dari sudut pandang produsen, ketergantungan pada impor justru dinilai memperburuk struktur pasar jangka panjang.
Bill Bullard, CEO R-CALF USA, menegaskan, "Persediaan domestik kita menyusut justru karena kita membiarkan impor yang berlebihan masuk dan menggeser produksi dalam negeri."










