TVRINews – Teheran
Washington dan Teheran kian bersitegang setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan menghantam dua kapal tanker di Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik regional Timur Tengah.
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali berkobar dalam dua pekan terakhir memicu lonjakan harga energi global secara signifikan. Ketegangan geopolitik ini mencapai babak baru ketika militer Iran menyatakan telah melumpuhkan dua kapal tanker minyak yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut di bawah pengawalan militer Amerika Serikat.
Berdasarkan keterangan resmi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Jumat, 31 Juli 2026, tindakan tegas tersebut diambil karena kapal-kapal komersial yang bersangkutan nekat melintasi jalan perairan vital menggunakan rute alternatif yang tidak selaras dengan koridor keamanan yang ditetapkan.
"Kapal-kapal tanker minyak yang tidak mematuhi ketentuan tersebut berhasil dihantam dan dihentikan pergerakannya, sementara empat kapal tanker lainnya segera memutar balik haluan menuju posisi semula," demikian rilis resmi pihak militer Iran dikutip Sabtu 1 Agustus 2026.
Pusat komando maritim mencatat bahwa Selat Hormuz kini nyaris lumpuh total akibat benturan kepentingan navigasi antara Washington dan Teheran. Kedua negara sebelumnya menetapkan protokol jalur pelayaran tandingan. Iran dilaporkan melancarkan serangan udara terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur selatan dekat pesisir Oman, sementara armada Amerika Serikat memperketat blokade terhadap seluruh pelabuhan dan armada Iran.

(Sebuah SPBU di Miami. Perusahaan-perusahaan energi mencatatkan rekor keuntungan akibat perang di Iran. (Foto: Marta Lavandier/AP News))
Dampak langsung dari disrupsi pasokan global ini terlihat jelas pada bursa komoditas internasional. Harga minyak mentah dunia melonjak melampaui 90 dolar per barel menyusul rangkaian serangan balasan Amerika Serikat terhadap basis militer di kawasan regional.
Sementara itu, arena politik domestik di Washington turut memanas. Presiden Donald Trump segera menggelar rapat kabinet darurat di tempat peristirahatan resmi Camp David, Maryland. Pertemuan tingkat tinggi ini difokuskan untuk merumuskan ulang strategi penyelesaian krisis yang telah memasuki bulan kelima, jauh melampaui estimasi awal Gedung Putih.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, sebelumnya mengonfirmasi agenda konsolidasi internal tersebut. Di sisi lain, tekanan politik terhadap pemerintahan petahana kian menguat seiring penurunan tingkat kepuasan publik. Jajak pendapat terbaru yang dirilis Reuters-Ipsos menunjukkan bahwa dukungan warga Amerika Serikat terhadap keterlibatan militer ini merosot hingga menyisakan sepertiga dari total populasi.
Kondisi ekonomi domestik yang diwarnai kenaikan harga bahan bakar serta kebutuhan pokok turut mempengaruhi konstelasi politik menjelang pemilihan paruh waktu. Sejumlah raksasa energi multinasional justru mencatatkan lonjakan laba bersih secara drastis, sementara perdebatan di Kongres Amerika Serikat mengenai resolusi penghentian operasi militer terus bergulir ketat di tengah kekhawatiran inflasi berkepanjangan.









