TVRINews – Jakarta
Jaksa Agung Rob Bonta meminta klarifikasi FIFA terkait perubahan kategori kursi yang merugikan konsumen.
Otoritas hukum negara bagian California resmi menghubungi badan sepak bola dunia, FIFA, guna menelisik dugaan pelanggaran hukum dalam proses penjualan tiket Piala Dunia 2026, menyusul laporan adanya perubahan kategori kursi secara sepihak setelah transaksi dilakukan oleh para penggemar.
Jaksa Agung California, Rob Bonta, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa transparansi dalam proses penjualan merupakan hak mutlak konsumen.
Penyelidikan ini berfokus pada ketidaksesuaian antara peta stadion yang ditampilkan saat pembelian dengan lokasi kursi yang akhirnya diterima oleh pembeli.
"Warga California harus dapat mempercayai bahwa kursi yang mereka beli sesuai dengan representasi yang diberikan selama proses penjualan," ujar Bonta, Rabu 13 Mei 2026 waktu setempat.
Dugaan Manipulasi Kategori
Laporan awal yang dirilis oleh The Athletic bulan lalu mengungkapkan keluhan para suporter yang merasa "disesatkan" oleh peta stadion FIFA.
Dalam sistem penjualannya, FIFA menawarkan tiga juta tiket yang terbagi dalam empat kategori harga berdasarkan kode warna di peta digital.
Namun, sejumlah pemegang tiket "Kategori 1" justru ditempatkan di area yang sebelumnya ditandai sebagai "Kategori 2" pada peta awal.
Ketidaksesuaian ini memicu kekhawatiran adanya penurunan kualitas layanan meski konsumen telah membayar harga tertinggi.
Dalam surat resminya, Bonta meminta FIFA memberikan salinan perubahan peta kursi beserta data jumlah penggemar yang terdampak.
"Beberapa konsumen melaporkan merasa tertipu karena kursi yang akhirnya mereka dapatkan termasuk dalam kategori yang lebih rendah," tambah Bonta.
Respons FIFA dan Sorotan Publik
Menanggapi tekanan hukum tersebut, pihak FIFA berkilah bahwa peta kategori yang dipublikasikan selama proses penjualan bersifat "indikatif".
Menurut FIFA, peta tersebut berfungsi sebagai panduan umum dan bukan merupakan tata letak kursi yang pasti.

(Peta Grafis: TVRINews.com/FY (Sumber Data: AFP))
Di sisi lain, lonjakan harga tiket Piala Dunia 2026 juga tengah memicu kritik tajam secara global.
Organisasi Football Supporters Europe (FSE) bahkan melabeli struktur harga saat ini sebagai bentuk "pemerasan" dan "pengkhianatan monumental."
Sebagai perbandingan, tiket termahal untuk final Piala Dunia 2022 di Qatar dibanderol sekitar $1.600. Untuk turnamen 2026 mendatang, tiket dengan kategori tertinggi mencapai angka fantastis sebesar $32.970.
Meski demikian, Presiden FIFA Gianni Infantino mempertahankan kebijakan tersebut. Ia menilai harga yang ditetapkan sudah sesuai dengan pasar Amerika Serikat, yang akan menjadi tuan rumah utama untuk sebagian besar pertandingan, termasuk babak semifinal dan final.
Penyelidikan di California ini diperkirakan akan menjadi pembuka jalan bagi peninjauan hukum lebih lanjut terhadap praktik bisnis FIFA menjelang pembukaan turnamen pada 11 Juni 2026.










