TVRINews - Frankfurt
Belanja militer melonjak, utang membengkak, dan ancaman krisis jangka panjang mengintai stabilitas Moskow.
Perekonomian Rusia di tengah kecamuk perang menghadapi tantangan struktural yang semakin nyata. Lonjakan belanja militer yang masif membuat defisit anggaran negara melonjak tajam, sementara kalangan dunia usaha dan konsumen mulai merasakan beban pesimisme yang kian mendalam. Kendati demikian, para ekonom menilai tanda-tanda krisis keuangan atau keruntuhan ekonomi dalam waktu dekat belum terlihat.
Pendapatan ekspor minyak yang tertopang oleh tingginya harga energi global pascakonflik Iran memberikan keleluasaan bagi pemerintah untuk mendanai operasi militer di Ukraina.
Di sisi lain, tingkat pengangguran yang berada di posisi rendah serta suntikan dana pemerintah ke wilayah-wilayah miskin turut meredam potensi gejolak sosial di tengah masyarakat.
Situasi tersebut selaras dengan narasi stabilitas yang diusung oleh Kremlin menjelang pemilihan parlemen. Kendati demikian, para pengamat ekonomi memperingatkan bahwa masalah jangka panjang secara perlahan mulai menggerogoti fondasi perekonomian negara beruang merah itu dan berpotensi memicu krisis di masa depan.
Indikator sentimen konsumen menunjukkan tren penurunan sejak mencapai puncaknya pada periode 2024 hingga 2025. Saat itu, lonjakan belanja militer sempat mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan upah pekerja. Namun, dinamika berubah ketika masyarakat harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar minyak serta kelangkaan pasokan akibat serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas kilang minyak.
Chris Weafer, CEO lembaga konsultan Macro-Advisory Ltd., berpandangan bahwa kendala rantai pasok dan gejolak ritel online belum dapat dikategorikan sebagai krisis ekonomi berskala besar. Menurutnya, kondisi perekonomian saat ini berada dalam fase stabilitas yang dapat ditoleransi dengan tingkat kepuasan publik yang cenderung datar.
"Perekonomian berada di bawah tekanan dan mengalami stagnasi dalam artian stabil tetapi tidak tumbuh, namun di sisi lain juga tidak menghadapi resesi," ujar Weafer dalam analisisnya mengenai dinamika domestik Rusia.
Salah satu indikator tekanan yang paling mencolok terlihat pada pelebaran defisit anggaran dan upaya pemerintah mencari sumber pembiayaan baru. Berdasarkan data per Juli, defisit anggaran tercatat mencapai 2,8 persen dari produk domestik bruto tahunan, hampir dua kali lipat dari target awal tahun. Menipisnya cadangan devisa memaksa Kremlin untuk bergantung pada pinjaman domestik dengan suku bunga obligasi yang tinggi.
Janis Kluge, pakar keuangan Rusia dari German Institute for International and Security Affairs, menilai bahwa tekanan fiskal tersebut memperbesar keraguan terhadap kemampuan Moskow dalam mempertahankan durasi konflik. Bank Sentral Rusia terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi demi meredam inflasi akibat belanja militer, yang pada gilirannya memberikan tekanan berat bagi sektor korporasi sipil.
Di sisi lain, aliran dana dari sektor pertahanan memberikan angin segar bagi wilayah-wilayah provinsi yang secara ekonomi tertinggal dari Moskow dan St. Petersburg. Pabrik-pabrik militer beroperasi penuh selama 24 jam dengan tingkat pengangguran nasional yang tercatat rendah di angka 2,2 persen.
Meski demikian, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa fluktuasi angka defisit bulanan merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. Ia memastikan bahwa stabilitas makroekonomi negara tetap terjaga sepenuhnya.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Andrei Klepach, kepala ekonom bank pembangunan milik negara VEB.RF. Ia memperingatkan bahwa isolasi ekonomi dan sanksi internasional membuat Rusia tertinggal dalam kompetisi teknologi global, sehingga sulit untuk memenangi perang Attrition atau kehabisan tenaga dalam jangka panjang.










