TVRINews – Sanaara
Aksi massa besar-besaran di Sanaa menggema di tengah eskalasi konflik regional dan pertempuran sengit yang terus berkecamuk di wilayah barat.
Stabilitas kawasan Timur Tengah kembali berada di bawah tekanan berat menyusul serangkaian eskalasi militer di Yaman dan insiden keamanan maritim di Selat Hormuz. Puluhan ribu warga turun ke jalan di ibu kota Yaman, Sanaa, untuk menyuarakan dukungan kepada kelompok Houthi sekaligus mengecam intervensi militer Arab Saudi pada jumat 18 september 2026.
Aksi massa yang berlangsung masif tersebut beririsan langsung dengan memanasnya front pertempuran di wilayah barat Yaman. Sumber militer dari pihak pemerintah Yaman melaporkan bahwa sekitar 30 pejuang Houthi tewas dan 60 lainnya mengalami luka-luka dalam bentrokan sengit yang terjadi di distrik Al-Wazi'iyah, Provinsi Taiz.
Situasi keamanan yang kian rapuh ini turut merembet ke jalur pelayaran internasional. Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi sebuah kapal tanker komersial mengalami kerusakan setelah terkena hantaran proyektil misterius di perairan strategis Selat Hormuz.
Sebelum insiden tersebut dikonfirmasi oleh otoritas maritim internasional, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan sebuah kapal tanker berbendera Togo.
Pihak Iran menuding kapal tersebut tengah berupaya melakukan pelayaran ilegal saat melintas di koridor sempit yang menjadi urat nadi minyak mentah global itu.
Di tempat terpisah, gelombang nasionalisme juga tampak menguat di Teheran. Puluhan ribu warga Iran yang tergabung dalam unit-unit sukarela, maupun mereka yang antusias mendaftarkan diri, memadati unjuk rasa pro-pemerintah.
Dalam unjuk rasa tersebut, pemerintah Iran turut memamerkan sejumlah armada nirawak atau drone serta perangkat persenjataan modern.
Para pengamat geopolitik internasional menilai rangkaian peristiwa simultan ini mencerminkan tingginya potensi instabilitas regional. Para analis memperingatkan bahwa dinamika yang terjadi di Yaman dan Selat Hormuz memerlukan pendekatan diplomasi multilateral yang intensif guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas dan merugikan perekonomian global.










