TVRINews – Teheran
Serangan AS dan Israel di Kawasan Teluk Menyasar Sektor Maritim Sipil
Eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memakan korban jiwa di sektor sipil.
Serikat Pelaut Iran melaporkan sedikitnya 44 pelaut komersial tewas akibat serangan yang menargetkan pelabuhan dan armada dagang negara tersebut sejak pecahnya konflik terbuka pada akhir Februari lalu.
Sekretaris Jenderal Iranian Merchant Mariners Syndicate (IMMS), Saman Rezaei, mengonfirmasi data tersebut kepada Al Jazeera.
Berdasarkan laporan yang dihimpun bersama Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran, rincian korban meliputi 22 pelaut sipil, 16 nelayan, dan enam pekerja dermaga.
"Krisis kemanusiaan ini berdampak pada seluruh pelaut di Teluk Persia. Namun, kru kapal berbendera Iran menghadapi tekanan yang unik dan mengerikan," ujar Rezaei.
Ia menambahkan bahwa selain ancaman fisik, para pelaut mengalami gangguan psikologis berat setelah terjebak di zona perang selama lebih dari 60 hari.
Blokade dan Ketegangan Maritim
Meskipun gencatan senjata antara AS dan Iran telah diberlakukan sejak 8 April, situasi di perairan strategis tetap kritis. Pada 13 April, Amerika Serikat meluncurkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Hal ini bertujuan untuk menghentikan ekspor minyak Teheran dan menekan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Penutupan Selat Hormuz jalur bagi seperlima pasokan energi dunia telah menyebabkan sekitar 20.000 pelaut terdampar di sekitar selat selama dua bulan terakhir.
Ketegangan ini diperparah dengan penyitaan kapal kargo berbendera Panama dan Liberia oleh pasukan Iran, serta penahanan kapal MV Touska milik Iran oleh komando pusat AS (CENTCOM)
Respons Internasional
Menanggapi jatuhnya korban sipil di laut, Sekretaris Jenderal Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF), Stephen Cotton, menekankan pentingnya perlindungan terhadap pekerja maritim dalam konflik bersenjata.
"Poin utamanya adalah, mereka adalah pelaut. Anda bisa mengatakan mereka berada di bawah bendera Iran dan ada sanksi yang berlaku, tetapi tidak semua orang setuju dengan sanksi tersebut. Mereka adalah warga sipil," tegas Cotton.
Hingga saat ini, IMMS telah mengajukan surat pengaduan resmi kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB terkait serangan di wilayah perairan teritorial Iran dan Teluk.
Di sisi lain, data dari IMO juga mencatat bahwa serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz telah menewaskan sedikitnya 10 pelaut sejak awal konflik dimulai.
Laporan dari Armed Conflict Location & Event Data (ACLED) menunjukkan bahwa lebih dari 3.000 serangan udara telah diluncurkan oleh pasukan AS dan Israel ke wilayah Iran sejak 28 Februari, yang dibalas dengan hampir 1.600 serangan balik oleh Teheran di berbagai titik di Timur Tengah.










