TVRINews – Kota Gaza
Krisis ekonomi ekstrem memaksa tenaga terampil beralih profesi menjadi pembersih puing dengan risiko keselamatan tinggi
Peringatan Hari Buruh Internasional di Jalur Gaza tahun ini tidak diwarnai dengan perayaan atau tuntutan kesejahteraan, melainkan perjuangan untuk sekadar bertahan hidup.
Di tengah kehancuran total akibat konflik yang berkepanjangan, para pekerja di Gaza terpaksa mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia, meski harus bertaruh nyawa di bawah bayang-bayang reruntuhan bangunan.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis Kementerian Tenaga Kerja Gaza, tingkat pengangguran kini telah melonjak hingga 80 persen.

(Yousef al-Rifi bekerja di salah satu toko roti darurat di pusat Kota Gaza [Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera])
Lebih dari 250.000 pekerja kehilangan mata pencaharian utama mereka, sementara angka kemiskinan meroket hingga melampaui 93 persen.
Kondisi ini diperparah dengan tingkat kerawanan pangan akut yang menghantui tiga perempat populasi.
Bekerja di Bawah Reruntuhan
Ibrahim Abu al-Eish, seorang lulusan akuntansi berusia 24 tahun, kini menghabiskan hari-harinya sebagai buruh kasar.
Di atas tumpukan batu dan beton yang hancur, ia membersihkan puing-puing untuk membuka jalan bagi alat berat.

(Ibrahim Abu al-Eish, yang memiliki pekerjaan berbahaya membersihkan puing-puing [Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera])
"Ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Saya tidak pernah membayangkan dalam hidup saya akan bekerja di profesi seperti ini," ujar Ibrahim kepada koresponden Al Jazeera.
Meski berisiko tinggi termasuk ancaman struktur bangunan yang bisa runtuh sewaktu-waktu Ibrahim tidak memiliki pilihan lain.
Ia memikul beban tanggung jawab untuk menghidupi sembilan anggota keluarga yang kini menetap di kamp pengungsian Jabalia.
Upah yang ia terima hanya sekitar 80 syekel (setara Rp350.000) per hari, jumlah yang tidak lagi mencukupi di tengah inflasi harga pangan yang liar.
"Saya telah terluka beberapa kali. Pernah suatu ketika, sebagian atap rumah runtuh menimpa rekan saya hingga ia terluka parah. Tidak ada jaminan keselamatan sama sekali, tapi saat ini tidak ada yang mudah didapat," tambah Ibrahim.
Runtuhnya Harapan Masa Depan
Nasib serupa dialami oleh Yousef al-Rifi (32). Sebelum perang menghancurkan segalanya, Yousef adalah pemilik toko roti keluarga.
Kini, setelah bisnis dan rumahnya rata dengan tanah, ia bekerja di sebuah toko roti darurat di pinggir jalan Kota Gaza.
Bekerja di bawah tenda plastik yang terik dengan upah 50 syekel per hari, Yousef menggambarkan kondisi saat ini sebagai "eksekusi terhadap harapan".
Ketidakpastian pasokan tepung dan fluktuasi harga membuat pekerjaannya tidak stabil. Untuk menutupi kebutuhan pokok, ia bahkan terpaksa menjual harta benda yang tersisa, termasuk telepon genggam miliknya dan sang istri.
"Seorang pekerja harus berjuang keras demi sesuap nasi," kata Yousef. "Inilah realitas kami... mata pencaharian yang keras, tak kenal ampun, dan bersimbah darah."
Krisis Kemanusiaan yang Mendalam
Kementerian Tenaga Kerja Gaza memperingatkan bahwa tanpa pencabutan blokade dan pembukaan akses perbatasan, stagnasi ekonomi akan semakin dalam.
Saat ini, lebih dari 95 persen penduduk Gaza bergantung sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan yang aksesnya pun sering kali dibatasi.
Sektor produktif yang lumpuh total membuat para profesional, seperti sarjana akuntansi hingga pemilik usaha, terdegradasi menjadi buruh harian dengan risiko keselamatan kerja nol persen.
Hari Buruh di Gaza bukan lagi tentang hak-hak normatif, melainkan tentang hak paling dasar manusia: hak untuk menyambung hidup satu hari lagi.










